Tan Malaka sang pengembara dan pejuang kemerdekaan dengan 23 nama alias

ADNIAN- Tan Malaka sang pengembara dan pejuang kemerdekaan dengan 23 nama alias. Nama lengkap Tan Malaka adalah Ibrahim Gelar Datuk Sutan Malaka. Nama yang diberikannya adalah Ibrahim, sementara Tan Malaka adalah seorang nama semi-aristokrat yang berasal dari garis keturunannya. Ia lahir pada pada 2-6-1897 (sumber lain mengatakan lahir tahun 1894), di  Nagari Pandan Gadang, Suliki, Limapuluh Koto, Sumatera Barat, meski tanggal lahirnya tidak pasti. Orang tuanya adalah HM. Rasad, seorang karyawan pertanian, dan Rangkayo Sinah, putri seorang yang dihormati di desa tersebut. Sebagai seorang anak Malaka belajar pengetahuan agama dan melatih pencak silat. Pada tahun 1908 Tan Malaka muda menghadiri Kweekschool, sebuah sekolah guru negara bagian, di Fort de Kock.

Tan Malaka saat muda



Menurut gurunya, G. H. Horensma, meski Malaka terkadang tidak taat, dia adalah murid yang hebat. Di sekolah ini, Malaka menikmati pelajaran bahasa Belandanya, jadi Horensma menyarankan agar dia menjadi seorang guru Belanda. Dia juga seorang pemain sepak bola yang terampil. Dia lulus dari sekolah itu pada tahun 1913 dan ditawari gelar datuk dan tunangan. Namun, dia hanya menerima gelar. Ia menerima gelar setelah sebuah upacara adat di tahun 1913


Pendidikan Di Belanda 1913 – 1919, usia 16 samapi 22

Meski Malaka menjadi datuk, dia meninggalkan desanya pada bulan Oktober 1913 untuk belajar di Rijkskweekschool, sebuah sekolah pendidikan guru pemerintah yang didanai oleh 'engkus' desanya. Sesampainya di Belanda, Malaka awalnya mengalami kejutan budaya. Dia juga, di bawah perkiraan iklim Eropa Utara, terinfeksi oleh pleuritis pada awal 1914, yang tidak sembuh sepenuhnya sampai pada tahun 1915.

Selama berada di Eropa, pengetahuannya tentang revolusi sebagai sarana transformasi masyarakat mulai meningkat. Sumber inspirasi pertama adalah de Fransche Revolutie, sebuah buku oleh sejarawan Jerman, penulis, jurnalis dan politisi demokratik sosial Wilhelm Blos 1889, tentang revolusi Prancis dan peristiwa sejarah di Prancis dari tahun 1789 sampai 1804. Buku ini diberikan kepadanya oleh Horensma.

Setelah Revolusi Rusia bulan Oktober 1917, Malaka semakin semakin tertarik pada komunisme dan sosialisme dan komunisme kontra reformis sosialisme. Dia sedang membaca buku-buku Karl Marx, Friedrich Engels, dan Vladimir Lenin. Friedrich Nietzsche juga salah satu model peran politik awalnya, dan mungkin telah memberinya gagasan bahwa satu orang dapat melakukan perbuatan baik jika dia hanya berani mengambil peran sebagai pahlawan.

Nietzsche berpendapat bahwa apa yang membuat seorang pahlawan (setidaknya dalam tragedi Yunani) adalah sebuah interaksi antara sifat Apollonian dan Dionysian dalam manusia - atau antara perencanaan logika terstruktur, jarak jauh, terstruktur, dan pengalaman euforia, kedekatan pengalaman (Dionysian) . Selama masa ini, sekitar tahun 1917 - 1920 Malaka sangat tidak menyukai kebudayaan Belanda dan terkesan oleh masyarakat Jerman dan Amerika. Dia kemudian mendaftar menjadi seorang tentara Jerman; Namun, dia ditolak karena tentara Jerman tidak menerima orang asing.

Di sana, Malaka bertemu dengan Henk Sneevliet, salah satu pendiri Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV, pelopor Partai Komunis Indonesia atau PKI). Malaka juga tertarik pada Societal-Democratische Onderwijzers Vereeniging (Asosiasi Guru Sosial Demokrat). Pada bulan November 1919 Malaka lulus dan menerima ijazahnya, hulpactie. Menurut ayahnya, selama waktu itu mereka berkomunikasi melalui sarana mistik yang disebut Tariqa/Tarekat.

Kembali ke Hindia Belanda


Setelah lulus, Malaka kembali ke desanya. Dia menerima sebuah tawaran oleh Dr. C. W. Janssen untuk mengajar anak-anak kuli perkebunan teh di Sanembah, Tanjung Morawa,Deli, Sumatra Timur. Malaka pergi ke sana pada bulan Desember 1919 dan mulai mengajar anak-anak Melayu pada bulan Januari 1920. Selain mengajar, ia juga menghasilkanpropaganda subversif untuk kuli, yang dikenal sebagai Deli Spoor.

Selama periode ini ia mengetahui tentang kemerosotan masyarakat adat yang telah terjadi. Dia juga melakukan kontak dengan ISDV dan menulis beberapa karya untuk pers. Salah satu karyanya yang paling awal adalah "Tanah Orang Miskin", yang menceritakan tentang perbedaan mencolok antara kekayaan antara kapitalis dan pekerja; itu termasuk dalam edisi Maret 1920 Het Vrije Woord. Malaka juga menulis tentang penderitaan para kuli di Sumatera Post. Dalam pemilihan Volksraad tahun 1920 dia adalah kandidat partai sayap kiri. Dia memutuskan untuk mengundurkan diri pada tanggal 23 Februari 1921.

Bergabunglah dengan Partai Komunis Indonesia secara singkat

Malaka memilih pulau Jawa sebagai titik awal perjuangannya, mengingat ada banyak tokoh yang memiliki pandangan yang sama dengan dia. Dia tiba di Batavia ketika gurunya yang tua, Horensma, menawarinya pekerjaan sebagai guru; Namun, Malaka menolaknya. Malaka mengatakan bahwa ia ingin mendirikan sebuah sekolah; Horensma menerima alasan tersebut dan mendukungnya. Malaka tiba di Yogyakarta pada awal Maret 1921 pada usia 24 dan tinggal di sebuah rumah milik Sutopo, mantan pemimpin Budi Utomo.

Di sana ia menulis sebuah proposal tentang sekolah tata bahasa. Dia berpartisipasi dalam kongres Sarekat Islam ke-5 dan bertemu dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Agus Salim, Darsono, dan Semaun. Kongres membahas topik keanggotaan ganda. Agus Salim dan Abdul Muis melarangnya, sementara Semaun dan Darsono adalah anggota PKI. Malaka menawarkan solusi yang tidak termasuk PKI karena kedua organisasi memiliki visi yang sama; Namun, larangan itu diterapkan pada akhirnya. Sarekat Islam terbelah sebagai hasilnya, membentuk Serikat Islam Putih (Putih SI), dipimpin oleh Tjokroaminoto, dan SI Merah (Red SI), yang dipimpin oleh Semaun dan berbasis di Semarang. Setelah kongres Malaka diminta oleh Semaun untuk pergi ke Semarang untuk bergabung dengan PKI.

Dia pergi ke Semarang dan kemudian menerimanya. Sesampainya di Semarang, Malaka sakit. Sebulan kemudian, dia kembali sehat dan ikut serta dalam pertemuan dengan sesama anggota SI Semarang. Pertemuan tersebut menyimpulkan bahwa saingan sekolah pemerintah dibutuhkan. Sekolah tersebut, bernama Sekolah Sarekat Islam (yang kemudian lebih dikenal dengan Sekolah Tan Malaka, dan menyebar ke Bandung dan Ternate), dibuka untuk pendaftaran pada tanggal 21 Juni 1921, sehari setelah pertemuan tersebut. Sebagai buku panduan untuk sekolah, Malaka menulis SI Semarang dan Onderwijs.

Pada bulan Juni 1921 Malaka menjadi ketua Serikat Pegawai Pertjitakan (Asosiasi Pekerja Percetakan) dan menjabat sebagai wakil ketua dan bendahara Serikat Pegawai

Pelikan Hindia (SPPH atau Asosiasi Pekerja Minyak Hindia). Antara Mei dan Agustus buku pertamanya, Sovjet atau Parlemen? (Soviet atau Parlemen?), Diserialkan dalam jurnal PKI Soeara Ra'jat; karya-karyanya yang lain, termasuk artikel, diterbitkan di jurnal dan surat kabar PKI Sinar Hindia. Pada bulan Juni dia adalah salah satu pemimpin Revolutionaire Vakcentrale dan pada bulan Agustus dia terpilih menjadi anggota redaksi jurnal SPPH Soeara Tambang.  Malaka kemudian menggantikan Semaun, yang meninggalkan Hindia Belanda pada bulan Oktober, sebagai ketua PKI setelah kongres pada tanggal 24-25 Desember 1921 di Semarang. Sementara Semaun lebih berhati-hati,

Malaka lebih radikal. Malaka juga menjalin hubungan baik dengan Sarekat Islam. Pemerintah Hindia Belanda merasa terancam dan menangkap Malaka pada tanggal 13 Pebruari 1922 pada usia 24 di Bandung saat ia mengunjungi cabang sekolah tersebut. Dia pertama diasingkan ke Kupang; Namun, dia ingin diasingkan ke Belanda. Dia meninggalkan Hindia Belanda pada bulan Maret dan tiba di Belanda pada tanggal 1 Mei.


Pengasingan Tan Malaka

Dalam perjalanan kehidupannya Tan Malaka, karean pola pemikirannya yang dianggap membahayakan pemerintahan kolonial Belanda, Tan Malaka beberapa kali di tahan oleh pemerintah Kolonial Hindia Belanda dan diasingkan ke berbagai daerah, sempat melarikan diri dari tahanan dan pengembara dan menyamar ke berbagai daerah dengan nama alias.

Malaka bergabung dengan Partai Komunis Belanda (CPN) dan ditunjuk sebagai kandidat ketiga dari partai Tweede Kamer pada pemilihan 1922 untuk Estates-General of Netherlands. Dia adalah subjek pertama Hindia Belanda yang pernah mencalonkan diri di Belanda. Dia tidak berharap untuk terpilih karena, di bawah sistem perwakilan proporsional yang digunakan, posisinya yang ketiga dalam tiket membuat pemilihannya sangat tidak mungkin. Tujuannya yang dinyatakan dalam menjalankannya adalah untuk mendapatkan sebuah platform untuk berbicara mengenai tindakan Belanda di Indonesia, dan bekerja untuk meyakinkan CPN untuk mendukung kemerdekaan Indonesia. Meskipun dia tidak memenangkan kursi, dia mendapat dukungan kuat yang tak terduga. Sebelum penghitungan suara selesai, dia pergi ke Jerman.

Di Berlin dia bertemu dengan Darsono, seorang komunis Indonesia yang berhubungan dengan Biro Komintern Eropa Barat, dan mungkin bertemu dengan M.N. Roy. Malaka kemudian melanjutkan ke Moskow, dan tiba pada bulan Oktober 1922 untuk berpartisipasi dalam Komite Eksekutif Komintern. Pada Kongres Dunia Keempat di Moskow, 1922, Malaka mengusulkan agar komunisme dan Pan-Islamisme dapat berkolaborasi; Namun, proposalnya ditolak. Pada bulan Januari 1923 Malaka dan Semaun ditunjuk sebagai koresponden Die Rote Gewerkschafts-Internationale. Pada paruh pertama tahun itu ia juga menulis untuk jurnal-jurnal gerakan buruh Indonesia dan Belanda. Dia juga menjadi agen Biro Timur Komintern saat dia melaporkan pleno ECCI pada bulan Juni 1923. Malaka pergi ke Kanton, tiba pada bulan Desember 1923, dan mengedit jurnal Inggris The Dawn untuk organisasi pekerja transportasi Pasifik.

Saat itu, Tan yang juga diangkat sebagai wakil Komunis Internasional (Komintern) Asia Tenggara menjadi incaran para agen negara imperialis seperti Inggris, Belanda dan Amerika. Bahkan Jepang pun memburunya. Dalam pengembaraannya di luar negeri, tak jarang Tan harus meringkuk di penjara luar negeri. Salah satunya di Hong Kong saat Tan tertangkap oleh agen rahasia Inggris.

Pada bulan Agustus 1924 Malaka meminta pemerintah Hindia Belanda untuk mengizinkannya pulang ke rumah karena sakit. Pemerintah menerima ini, tapi dengan syarat memberatkan; Malaka dengan demikian tidak kembali ke rumah. Pada bulan Desember 1924 PKI mulai runtuh, seperti yang ditekan oleh pemerintah kolonial Belanda.

Sebagai tanggapan, Malaka menulis Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia), yang diterbitkan di Kanton pada bulan April 1925. Ini menjelaskan situasi di dunia, dari Belanda yang mengalami krisis ekonomi, Hindia Belanda yang memiliki kesempatan untuk melakukan revolusi oleh gerakan nasionalis dan PKI, dengan prediksi bahwa Amerika Serikat dan Jepang akan "puas dengan pedang. yang mana yang lebih kuat di Pasifik. "

Pada bulan Juli 1925 usia 28, Tan Malaka pindah ke Manila, Filipina, karena lingkungannya serupa dengan Indonesia. Malaka tiba di Manila pada tanggal 20 Juli. Di sana ia menjadi koresponden koran nasionalis El Debate, disunting oleh Francisco Varona. Publikasi karya Malaka, seperti edisi kedua Naar de Republiek Indonesia (Desember 1925) dan Semangat Moeda (Roh Muda; 1926) mungkin didukung oleh Varona. Di sana Malaka juga bertemu dengan Mariano de los Santos, José Abad Santos, dan Crisanto Evangelista.

Di Indonesia, PKI memutuskan untuk memberontak dalam waktu enam bulan setelah pertemuannya, yang diadakan sekitar Natal 1925. Pemerintah mengetahui hal ini dan mengasingkan beberapa pemimpin partai. Pada bulan Februari 1926, Alimin pergi ke Manila untuk meminta persetujuan dari Malaka. Malaka akhirnya menolak strategi ini dan menyatakan bahwa kondisi partai tersebut masih terlalu lemah dan tidak memiliki kekuatan untuk melakukan revolusi. Dia menggambarkan dalam otobiografinya bahwa frustrasinya dengan ketidakmampuannya untuk mendapatkan informasi tentang kejadian di Indonesia dari tempatnya di Filipina, dan kurangnya pengaruhnya terhadap kepemimpinan PKI.

Sebagai perwakilan Komintern untuk Asia Tenggara, Tan Malaka berpendapat bahwa dia memiliki wewenang untuk menolak rencana PKI, sebuah pernyataan yang, jika dipikir-pikir, ditolak oleh mantan anggota PKI tertentu. Malaka mengirim Alimin ke Singapura untuk menyampaikan pandangannya dan memerintahkannya untuk mengadakan pertemuan mendadak antara para pemimpin. Melihat tidak ada kemajuan, Malaka pergi ke Singapura untuk menemui Alimin dan mengetahui bahwa Alimin dan Muso telah melakukan perjalanan ke Moskow untuk mencari pertolongan untuk melakukan pemberontakan.

Di Singapura, Malaka bertemu dengan Subakat, pemimpin PKI lainnya, yang berbagi pandangannya. Mereka memutuskan untuk menggagalkan rencana Muso dan Alimin. Selama periode ini Malaka menulis Massa Actie (Aksi Massa), yang berisi pandangannya tentang revolusi Indonesia dan gerakan nasionalis. Dalam buku ini Malaka mengusulkan Aslia, sebuah federasi sosial antara negara-negara Asia Tenggara dan Australia utara. Buku ini dimaksudkan untuk mendukung upayanya membalikkan arah PKI dan mendapatkan dukungan kader untuk timnya.

Tan Malaka

Partai Republik Indonesia, Persatuan Perjuangan, kemudian hidup, dan mati

Pada bulan Desember 1926 usia 29, Malaka pergi ke Bangkok, di mana dia mempelajari keruntuhan PKI oleh kolonial Hindia Belanda. Tan Malaka, bersama Djamaludin Tamin dan Subakat, mendirikan Partai Republik Indonesia (PARI) pada awal Juni 1927, menjauhkan diri dari Komintern dan juga dalam manifesto partai baru, mengkritik PKI. Sementara PARI memang memiliki keanggotaan kecil di dalam negeri, namun tidak pernah tumbuh menjadi organisasi besar; Namun, dengan PKI pergi ke bawah tanah, itu adalah satu-satunya organisasi di akhir tahun 1920an yang secara terbuka menyerukan kemerdekaan segera untuk Indonesia. Beberapa kader partai PARI adalah Adam Malik, Chaerul Saleh, Mohammad Yamin, dan Iwa Kusumantri.

Malaka kembali ke Filipina pada bulan Agustus 1927, usia 30. Belanda ingin mengusir Tan Malaka ke kamp konsentrasi Digul, dan Malaka ditangkap pada tanggal 12 Agustus 1927 dengan tuduhan memasuki wilayah Filipina secara ilegal. Dr. San Jose Abad membantunya di pengadilan; Namun, Malaka menerima vonis bahwa dia akan dideportasi ke Amoy (Xiamen),China. Polisi Penyelesaian Internasional Kulangsu (Gulangyu), diberitahu tentang perjalanan Tan Malaka ke Amoy, menunggunya di pelabuhan dengan tujuan untuk menangkapnya sebagai ekstradisi ke Hindia Belanda, namun dia berhasil melarikan diri sebagai kapten dan kru simpatik. lindungi dia, mempercayakan keamanannya kepada inspektur kapal. Inspektur kapal membawa Tan Malaka ke sebuah wisma tamu dari tempat dia berjalan ke desa Sionching dengan kenalan yang baru dibuat.

Malaka kemudian melakukan perjalanan ke Shanghai pada akhir tahun 1929, usia 32. Poeze menulis bahwa Malaka mungkin telah bertemu dengan Alimin di sana pada bulan Agustus 1931, dan membuat kesepakatan dengan dia bahwa Malaka akan bekerja lagi untuk Komintern. tan Malaka pindah ke Shanghai pada bulan September 1932 setelah serangan yang dilakukan oleh pasukan Jepang, dan memutuskan untuk pergi ke India, menyamar sebagai orang Cina-Filipina dan menggunakan sebuah alias.

Ketika berada di Hong Kong pada awal Oktober 1932, usia 35, dia ditangkap oleh pejabat Inggris dari Singapura, dan ditahan selama beberapa bulan. Dia berharap memiliki kesempatan untuk memperdebatkan kasusnya di bawah hukum Inggris dan mungkin mencari suaka di Inggris Raya, namun setelah beberapa bulan diinterogasi dan dipindahkan antara penjara bagian "Eropa" dan "Cina", diputuskan bahwa dia hanya akan diasingkan dari Hong Kong tanpa tuduhan. Dia kemudian dideportasi lagi ke Amoy.

Malaka melarikan diri sekali lagi, dan pergi ke desa Iwe di selatan China. Di sana dia dirawat dengan obat tradisional Tiongkok untuk penyakitnya. Setelah kesehatannya membaik pada awal 1936, usia 39, dia kembali ke Amoy dan membentuk Sekolah Bahasa Asing. Abidin Kusno berpendapat bahwa masa inap di Shanghai ini merupakan periode penting dalam membentuk tindakan Tan Malaka kemudian selama revolusi Indonesia di akhir tahun 1940an; kota pelabuhan itu berada di bawah kedaulatan China namun didominasi pertama oleh negara-negara Eropa dengan konsesi perdagangan di kota tersebut, dan kemudian oleh Jepang setelah invasi September 1932. Penindasan orang Tionghoa yang dia lihat di bawah kedua kekuatan ini, menurut Kusno, memberi kontribusi pada posisi tanpa kompromi melawan kolaborasi dengan Jepang atau negosiasi dengan Belanda pada tahun 1940an, ketika banyak nasionalis Indonesia yang menonjol mengadopsi sikap yang lebih damai.

Pada bulan Agustus 1937, usia 40, ia pergi ke Singapura dengan identitas Cina palsu dan menjadi seorang guru. Setelah Belanda menyerah ke Jepang, dia kembali ke Indonesia melalui Penang. Dia kemudian berlayar ke Sumatra tiba di Jakarta pada pertengahan 1942, usia 45, di mana dia menulis Madilog. Setelah dia merasa harus memiliki pekerjaan, dia melamar ke Badan Kesejahteraan Sosial dan segera dikirim ke sebuah tambang batubara di Bayah, di pantai selatan Jawa Barat.

Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, ia mulai bertemu dengan rakyatnya sendiri dan generasi muda. Dia juga mulai menggunakan nama aslinya setelah 20 tahun menggunakan alias. Dia kemudian melakukan perjalanan ke Jawa dan melihat orang-orang Surabaya berperang melawan tentara Inggris pada bulan November. Ia menyadari perbedaan perjuangan antara orang-orang di beberapa tempat dan para pemimpin di Jakarta. Dia pikir para pemimpin terlalu lemah dalam negosiasi dengan Belanda.

Solusi Tan Malaka untuk penyelesaian yang dirasakan ini adalah menemukan pembentukan "Persatuan Perjuangan", sebuah koalisi yang terdiri dari 140 kelompok kecil, terutama tidak termasuk PKI. Setelah beberapa bulan berdiskusi, koalisi tersebut didirikan secara formal di sebuah kongres di Surakarta (Solo) pada pertengahan Januari 1946. Ini mengadopsi "Program Minimum", yang menyatakan bahwa hanya kemerdekaan penuh dapat diterima, bahwa pemerintah harus mematuhi keinginan orang-orang, dan perkebunan dan industri milik asing harus dinasionalisasi.

Persatuan Perjuangan memiliki dukungan rakyat yang luas, serta dukungan tentara republik, di mana Jenderal Sudirman adalah pendukung kuat koalisi Tan Malaka. Pada bulan Februari 1946, organisasi tersebut memaksa pengunduran diri Perdana Menteri Sutan Sjahrir, seorang pendukung negosiasi dengan Belanda, dan Sukarno berkonsultasi dengan Tan Malaka untuk mencari dukungannya. Namun, Tan Malaka tampaknya tidak dapat menjembatani perpecahan politik di dalam koalisinya untuk mengubahnya menjadi kontrol politik yang sebenarnya, dan Syahrir kembali memimpin kabinet Sukarno.

Sementara, Soekarno, Hatta, Sjahrier, Amir Sjamsuddin dkk, kukuh dengan jalan perundingan dengan Belanda. Melalui organisasi Persatuan Perjuangan (PP) yang didirikannya pada Januari 1946 Tan menjadi oposisi yang menentang keras pemerintah saat itu. Alhasil, Tan ditangkap dan dipenjarakan pada Maret 1946 hingga September 1948.

Sekeluarnya dari penjara, Tan langsung berjuang bersama dengan pengikutnya. Tan mendirikan Partai Murba dan kembali mengritik keras pemerintah dan Soekarno yang dinilainya tunduk kepada Belanda. Tan bergerilya melawan agresi militer Belanda.

Setelah dibebaskan, dia menghabiskan akhir 1948 di Yogyakarta, bekerja untuk membentuk sebuah partai politik baru, yang disebut Partai Murba (Partai Proletar), namun tidak dapat mengulang kesuksesan sebelumnya untuk menarik pengikut berikut. dan kembali mengritik keras pemerintah dan Soekarno yang dinilainya tunduk kepada Belanda. Tan Malaka berpendapat kemerdekaan 100% lah yang harus di raih oleh Indonesia dari Belanda, bukan dengan jalan perundingan, yang menganggap peundingan dengan Belanda seperti berunding dengan maling di rumah sendiri.

Tan Malaka dan Sukarni


Ketika Belanda merebut pemerintahan nasional pada bulan Desember 1948, dia melarikan diri dari kota ke pedesaan Jawa Timur, di mana dia berharap dia akan dilindungi oleh pasukan gerilya anti-republik. Dia mendirikan markas besarnya di Blimbing, sebuah desa yang dikelilingi oleh sawah, dan menghubungkan dirinya dengan Mayor Sabarudin, pemimpin Batalyon 38.

Menurut Malaka, Sabarudin adalah satu-satunya kelompok bersenjata yang benar-benar melawan Belanda. Sabarudin, bagaimanapun, berada dalam konflik dengan semua kelompok bersenjata lainnya. Pada tanggal 17 Februari, para pemimpin TNI di Jawa Timur memutuskan bahwa Sabarudin dan rekan-rekannya ditangkap dan dihukum setelah menjalani hukum militer. Pada tanggal 19, mereka menangkap Tan Malaka di Blimbing. Pada tanggal 20 Februari, Korps Speciale Troepen (KST) yang terkenal itu kebetulan memulai apa yang disebut "operasi Harimau" dari kota Nganjuk, Jawa Timur. Mereka maju dengan cepat dan brutal.


Tan Malaka sangat mengenal Islam dah hafidz Quran

Tan Malaka dapat dibilang sebagai tokoh sangat mengenal Islam, dan bahkan jauh mendalami Islam dibandingkan dengan Soekarno atau bahkan Mohammad Hatta. Terlebih dia pun telah belajar Islam dari kanak-kanak, dan kabarnya pernah mendalami tarikat hingga pernah menjadi guru agama di kampung asalnya, Limapuluh Koto, Sumatra Barat.

Tan Malaka memang berseberangan dengan kebijakan PKI ketika 1926 dan 1948, yang tidak setuju kudeta dilakukan pada saat itu. Selain itu, Tan Malaka juga berpandangan, untuk menggandeng kekuatan Islam dalam revolusi Indonesia dan gagasan ini ditolak kalangan pengikut Komintern dan PKI. Di samping itu dekat dengan partai Serikat Islam partai berbasisi Islam dan menjadi penengah saat terjadi perpecahan di Serikat Islam, antara Serikat Islam putih yang berhaluan kanan, dan Serikat Islam merah yang berhaluan kiri.

Dalam diskusi Dialog Kebangsaan Pahlawan Kemerdekaan Nasional Tan Malaka di STAIN Kediri, Kamis (9/11/2017). itu juga sempat disinggung bagaimana Tan Malaka dan pendiri Nahdlatul Ulama KH Hasyim Asy'ari sempat bertemu dan rapat berjam-jam. Tan Malaka juga rutin bertatap muka dengan KH Wachid Hasyim, ayah Gus Dur.

Pertemuan pada peristiwa 10 November 1945 itu berlangsung di Mojokerto. Pertemuan itu konon mengilhami lahirnya resolusi Jihad. "Artinya KH Hasyim Asy'ari dan KH Wachid Hasyim memiliki hubungan yang baik dengan Tan Malaka, " tambah Taufik Alamin dosen STAIN Kediri sekaligus Ketua Panitia Acara.

Ia juga mengatakan, Tan Malaka juga dicap sebagai kiri yang pro-PKI. Padahal, ia melawan PKI dan PKI juga melawannya. Tan merupakan sosok yang sosialis tulen dan luar biasa mengabdikan dirinya ke masyarakat.


Tan Malaka adalah pribadi yang tak ingin terkungkung oleh satu ideologi, maka itu alih-alih mengikuti PKI, ia lebih memilih untuk menggagas Partai Musyawarah Rakyat Banyak alias Murba. Ia punya kemiripan dengan Soekarno yang cenderung berada di tengah, meski kemudian persepsi yang lebih terbangun di tengah publik dan turut dibesar-besarkan lawan politiknya; dia adalah seorang komunis yang tak bedanya dengan kalangan PKI umumnya.

Guru Besar Universitas Indonesia Prof Dr Zulhasril Nasir mengungkapkan bahwa Tan Malaka adalah seorang hafidz atau penghafal Alquran. Jalur Marxisme yang dia pilih hanya alat perjuangan melawan penjajah dan kolonial pada masa itu.

"Dan kenapa tokoh tokoh kiri justru datang dari pesantren. Karena mereka yang mula-mula berpikir tentang keadilan dan bagaimana melawan penjajahan, "ujar Prof Nasir saat Dialog Kebangsaan Pahlawan Kemerdekaan Nasional Tan Malaka di STAIN Kediri, Kamis (9/11/2017).


Tan Malaka  Kecil yang Tak Kenal Takut

Di masa kecilnya, Tan Malaka adalah seorang anak yang pemberani, nakal dan keras kepala. Pria kelahiran Suliki, Sumatra Barat, 1894 itu dikenal suka berkelahi, terutama ketika ada perkelahian antar-kampung atau yang kini sering disebut tawuran. Di antara teman-temannya, Tan Malaka dianggap sebagai seorang jagoan. Ia memiliki jiwa yang tak kenal takut dan pantang menyerah.

Suatu hari, Tan Malaka melayani tantangan dari temannya untuk berenang di sebuah sungai. Padahal saat itu, ia masih terlalu lemah untuk melayani tantangan temannya yang usianya sudah senior itu.

Apalagi saat itu arus sungai sangat deras dan bergelombang. Alhasil, Tan Malaka kecil pingsan di tengah sungai. Untungnya, teman-temannya yang usianya lebih tua di atasnya bisa menyelamatkan dan membawanya ke tepian.

Tan Malaka kemudian dibawa teman-temannya pulang dan baru sadar ketika dipukul oleh ibunya yang bernama Rangkayo Sinah dengan sapu lidi. Tak hanya dari ibunya, Tan Malaka juga kerap mendapat hukuman dari gurunya karena kenakalannya.


Dalam buku berjudul 'Tan Malaka; Pahlawan Besar yang Dilupakan Sejarah' karya Masykur Arif Rahman, disebutkan hukuman yang kerap diberikan oleh ibu dan guru kepada Tan Malaka antara lain dipukul dengan sapu lidi, dijemur di pinggir jalan sambil menggigit alat yang biasa digigit kuda agar malu dilihat orang, dimasukkan ke kandang ayam, hingga diputar pusarnya. Hukuman terakhir itu merupakan hukuman yang paling ditakuti oleh Tan Malaka kecil.

Selain dikenal nakal, Tan Malaka kecil juga terkenal sopan, jujur, dan punya prinsip.

Ia juga terkenal memiliki sifat terus terang, lurus, sedikit pemberang, berkemauan keras, dan seorang yang memiliki solidaritas tinggi. Tak hanya itu, sejak kecil Tan Malaka juga terkenal cerdas sampai-sampai guru-gurunya sangat menyayanginya.

Selain itu karena kecerdasannya, Tan Malaka mampu menguasai enam bahasa, menjadi guru tanpa pamrih, dan mampu menghasilkan karya-karya tulisan.

Tan Malaka gemar Olahraga sepak bola dan Seni pertunjukan sandiwara
Sebagai olah raga yang sangat diminati oleh berbagai kalanan masyarakat, Tan Malaka menggunakan ketangkasannya bermain sepak bola bukan hanya semata untuk menunjukan identitasnya namun ia mencoba menunjukan jati diri dirinya sebagai putra Hindia Belanda yang punya keiginan untuk merdeka. Tak bisa dimungkiri Tan Malaka menggunakan olahraga sepak bola sebagai alat untuk mengkomunikasikan tentang rasa nasionalisme

Saat itu pemerintah kolonial Belanda menunjukan superioritas kultural atas olahraga sepak bola dengan menaruh papan pengumuman yang bertuliskan "Verboden voor Inlanders en Hounden" atau "Dilarang Masuk untuk Pribumi dan Anjing" di beberapa lapangan sepak bola yang berada di Batavia. Tidak itu saja, klub-klub pribumi bahkan dilarang bertanding melawan klub Eropa.


Kegemaran Tan Malaka bermain sepak bola di mulai saat dirinya masih di sekolah dasar pada 1911. di garis depan. Tan malaka kerap menempati posisi penyerang. Sosok Tan malaka di atas rumput hijau digambarkan sebagai penyerang yang gesit dan licin. Saat merumput Tan Malaka memilih untuk tidak bersepatu. Hal ini sering mengundang decak kagum dari rekan-rekannya.

Kegemaran dan kemahiran Tan Malaka dalam mengolah si kulit bundar terus berlangsung bahkan sempat membuat namanya menjadi populer. Selama kurun waktu antara tahun 1914-1916, ketika Tan Malaka tinggal di Harleem, Belanda, ia sempat bergabung bersama klub profesional Vlugheid Wint. Dalam klub itu, Tan dikenal sebagai penyerang andal yang memiliki kecepatan luar biasa. Bermain di garis depan, beberapa penjaga gawang pernah merasakan tendangan keras Tan Malaka saat bermain tanpa alas kaki alias nyeker.

Kegemarannya dalam sepakbola, membuatnya menulis filosofis tentang sepakbola dalam salah satu karyanya, Madilog (Materialisme, Dialektika, dan Logika), Tan Malaka menuliskan bahwa salah satu cara agar tidak terjadi kekacauan, ibarat menentukan pemain dalam sebuah pertandingan sepak bola. Ia menuliskan, "Apabila kita menonton satu pertandingan sepak bola, maka lebih dahulu sekali kita pisahkan si pemain, mana yang masuk klub ini, mana pula yang masuk kumpulan itu. Kalau tidak, bingunglah kita. Kita tidak bisa tahu siapa yang kalah, siapa yang menang. Mana yang baik permainannya, mana yang tidak."


Tan Malaka Sebagai Kerani Tambang
Harry A Poeze dalam bukunya yang berjudul 'Tan Malaka, Gerakan kiri, dan Revolusi Indonesia: Agustus 1945-Maret 1946, Ibrahim Datuk Tan Malaka pindah dari Jakarta ke Bayah, Banten. Di tempat itu, Tan Malaka yang menyamar dengan menggunakan nama Ilyas Hussein bekerja di bagian administrasi sebagai juru tulis para romusha. Tan Malaka datang ke Bayah pada Juni 1943. Dia dikenal masyarakat Bayah dengan nama samaran Ilyas Hussein. Parino lamat-lamat mengingat nama Hussein sebagai seorang kerani atau juru tulis. ”Kalau enggak salah, orangnya sangat pintar,” kata Parino.

Dalam penyamarannya sebagai Ilyas Hussein, Tan Malaka memperjuangkan berbagai hak-hak romusha, mulai dari kesehatan, gaji, dan kehidupan yang layak. Pemerintah Jepang pun menilai kinerja Ilyas Hussein sangat baik, Mereka lalu menjadikannya menjadi Ketua BPP (Badan Pembantu Keluarga PETA).

Saat menjabat sebagai Ketua Badan Pembantu Keluarga PETA inilah Tan Malaka sering mengadakan kegiatan kemasyarakatan, seperti pertunjukan sandiwara ataupun pertandingan sepak bola sebagai kegiatan ekstra kemasyarakatan. Kedua hal itu ia lakukan untuk menghilangkan rasa lelah dan penat yang dialami para romusha.

Tak hanya menggelar kegiatan, Tan Malaka bahkan membentuk grup sandiwara serta tim kesebelasan sepak bola bernama Pantai Selatan. Lewat grup Sandiwara Tan menyisipkan berbagai kritik terhadap pemerintah jepang lewat lakon-lakon kisah seperti Hikayat Hang Tuah, Diponegoro, ataupun Kisah Perang Puputan Bali.



Tan bekerja di Bayah setelah melamar ke kantor Sosial. Dia butuh penghasilan sekaligus tempat bersembunyi. Waktu itu, perusahaan di Bayah membutuhkan 30 pekerja—bukan romusha. Tan melamar tanpa ijazah. Dia mengaku bersekolah di MULO (setara dengan sekolah menengah pertama) dua tahun dan pernah menjadi juru tulis di Singapura. Tan lulus dengan menyisihkan 50 pelamar.

Tan berangkat dengan kereta api dari Tanah Abang, berakhir di Stasiun Saketi. Saat itu kereta rute Saketi-Bayah belum beroperasi. Dia lalu meneruskan perjalanan dengan truk.

Sesampai di Bayah, Tan indekos di rumah warga, sebelum menghuni gubuk kecil dari bambu. Dia selalu memakai celana pendek, kemeja dengan leher terbuka, kaus panjang, helm tropis, dan tongkat. Dia berbicara dengan bahasa Indonesia, tapi jarang tampil di depan umum.

Romusha mendapat upah 0,40 gulden (40 sen) dan 250 gram beras setiap hari. Uang 40 sen hanya cukup buat membeli satu pisang. Dalam salah satu tulisannya, Rencana Ekonomi Berjuang, Tan mengatakan hitung-hitungan upah romusha hanya di atas kertas. Tulisan itu dia buat di Surabaya pada November 1945.

Di situ Tan melukiskan kondisi romusha di Bayah lewat percakapan dua tokoh cerita, si Toke dan si Godam. ”Seratus ton arang itu diperoleh dengan makian bagero saja. Tanah, mesin, dan tenaga romusha pun digedor,” ucap si Godam. Ringkasnya, Jepang sama sekali tidak mengeluarkan bayaran romusha.

Tan mencoba menggalang pemuda untuk memperbaiki nasib romusha. Dia menggagas dapur umum yang menyediakan makanan bagi seribu romusha. Mereka membangun rumah sakit di pinggiran Desa Bayah, Cikaret. Tan juga membuka kebun sayur dan buah-buahan di Tegal Lumbu, 30 kilometer dari Bayah.

dalam buku Harry A Poeze, penulis paling otoritatif tentang Tan Malaka, ‘Pergulatan Menuju Republik’, terbitan Grafiti Pers. Bung Karno, dalam kampanye untuk menarik rakyat menjadi romusha—sering diartikan sebagai kerja paksa khas Jepang, sempat mengunjungi Bayah, Banten Selatan, tempat romusha dipekerjakan untuk membangun jaringan rel kereta api Saketi-Bayah, sepanjang 150-an km.
Bung Karno datang bersama Bung Hatta dan para anggota Jawa Hokokai. Kedatangan itu bagian dari kampanye Bung Karno untuk bekerja sama dengan Pemerintah Pendudukan Jepang, yang ia yakini akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia. Sebelumnya, pada 3 September 1944, Bung Karno telah memberangkatkan 500-an romusha ke Burma.
Para romusha itu berangkat dengan bangga, diiringi pidato Soekarno,” Tujuan usaha ini adalah untuk menunjukkan kepada Jepang bahwa penduduk Jawa telah siap sehidup semati dengan Dai Nippon. Kita berjanji tidak akan bercukur selama pengabdian sebagai romusha, sebagai tanda bukti kepada negara,” kata Bung Karno, seperti tertuang dalam buku yang ditulis Aiko Kurasawa.

Bung Karno sendiri datang ke Bayah sebagai romusha. Pada lengannya tertulis pita besar bernomor 970. Romusha bernama Soekarno itu ditulis koran-koran zaman itu tinggal di pondokan sederhana romusha, makan makanan mereka. Koran juga memuat foto saat Bung Karno mengangkat karung pasir dalam pekerjaan sehari-hari romusha.

Bedanya, Bung Karno dan rombongan beberapa hari kemudian pulang ke Jakarta, dan para romusha asli tidak.

 Tetapi bukankah manusia memang layak punya cela? Bung Karno sendiri bukan seorang berhati keras membatu. Kepada penulis biografinya, Cindy Adam, almarhum menyampaikan pengakuan, yang lebih laik satu penyesalan.
“Sesungguhnya akulah –Sukarno – yang mengirim mereka kerja paksa. Ya, akulah orangnya. Aku menyuruh mereka berlayar menuju kematian. Ya, ya, ya, ya akulah orangnya. Aku membuat pernyataan untuk menyokong pengerahan romusha. Aku bergambar dekat Bogor dengan topi di kepala dan cangkul di tangan untuk menunjukkan betapa mudah dan enaknya menjadi seorang romusha. Dengan para wartawan, juru potret, Gunseikan –Kepala Pemerintahan Militer- dan para pembesar pemerintahan aku membuat perjalanan ke Banten untuk menyaksikan tulang-tulang-kerangka-hidup yang menimbulkan belas, membudak di garis-belakang, itu jauh di dalam tambang batubara dan tambang mas. Mengerikan. Ini membikin hati di dalam seperti diremuk-remuk.”

Awal Juni 1945, Tan menerima undangan dari Badan Pembantu Keluarga Peta Rangkasbitung untuk membicarakan kemerdekaan. Pertemuan itu untuk memilih dan mengirimkan wakil Banten ke pertemuan Jakarta. Tan—sebagai Hussein—didaulat menjadi wakil Banten ke konferensi Jakarta.


Tan Malaka yang Misterius

Pada 1940-an, di antara orang-orang Sumatera, Tan Malaka adalah legenda. Ia diceritakan sebagai sosok yang bisa berpindah tempat ratusan kilometer dalam sekejap. Ia dapat mengubah wujudnya sekehendaknya. Satu hari Anda mengenalnya. Di keesokan hari, Anda tak mengenal lagi sosoknya maupun mengetahui di mana dirinya.

Mistis? Ya. Tetapi, mitos dan aura misterius menyelubunginya lantaran situasi yang sangat wajar. Tan Malaka dianggap seseorang yang berbahaya oleh rezim kolonial. Keberadaannya berbahaya—ia adalah sosok yang cakap meyakinkan orang, penggalang massa yang ulung, serta penggugah pergerakan yang efektif. Tulisan-tulisannya lebih-lebih berbahaya. Sukarno dijatuhi hukuman yang lebih berat ketika diadili di Bandung hanya karena ketahuan menyimpan buku Massa Actie (Aksi Massa) yang terlarang karya Tan.


Tan Malaka pun, akibatnya, menghabiskan lebih dari separuh kehidupannya sebagai buron. Ia tak bisa berdiam di satu tempat lama serta harus mempergunakan identitas palsu dalam banyak kesempatan. Ia memiliki 23 nama samaran dan selalu berpindah dengan total perjalanan sepanjang 89 ribu kilometer. Harry Poeze menulis, Tan Malaka tak mudah percaya kepada orang. Ketika ia meyakinkan Sukarni, tokoh pemuda sekaligus pengagumnya, untuk mendorong Sukarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan selekasnya, Sukarni hanya mengetahuinya sebagai Ilyas Hussein, seorang kerani di pertambangan batu bara di Bayah, Banten.

Aura misterius Tan ini pun merongrong elite yang lantas memperoleh tampuk kepemimpinan Indonesia pasca-penjajahan. Mereka sebelumnya hanya mengetahui Tan Malaka sekadar dari tulisan-tulisannya yang menginspirasi mereka bangkit melawan kekuatan kolonial. Sekonyong-konyong saja, mereka menjumpainya secara langsung. Ini menyebabkan sosoknya menjadi momok ketika pada tahun-tahun terakhir kehidupannya ia kembali ke Indonesia. Ia kembali ditangkap pada bulan Maret 1946 dengan tuduhan yang tak bisa dibuktikan yakni hendak mengacau keadaan dan bertindak menggelisahkan.

Metode Pembelajaran Tan Malaka sebagai Guru

Menurut Harry A. Poeze (Penulis Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia. 1. translated by Hersri Setiawan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia) Malaka berasumsi bahwa pemerintah kolonial menggunakan sistem pendidikan untuk menghasilkan masyarakat adat berpendidikan yang akan menekan rakyatnya sendiri. Malaka mendirikan Sekolah Sarekat Islam untuk menyaingi sekolah pemerintah. Syaifudin menulis bahwa Malaka memiliki empat metode pengajaran yang berbeda: dialog, jembatan keledai, diskusi kritis, dan sosiodrama. Dalam metode dialog, Malaka menggunakan komunikasi dua arah sambil mengajar. Selama mengajar di Deli, dia mendorong siswa untuk mengkritik guru mereka, atau orang Belanda, yang sering salah. Di sekolah SI, dia mempercayakan siswa yang mendapat nilai lebih tinggi untuk mengajar siswa dengan nilai lebih rendah. Jembatan keledai terinspirasi oleh al-Ghazali; Selain menghafal ilmu, para siswa diinstruksikan untuk memahami dan menerapkannya pada kehidupan mereka sehari-hari. [58] Syaifudin menulis bahwa ini adalah kebalikan dari konsep gaya bank, dan itu serupa dengan pembelajaran kontekstual. Pada diskusi kritis, Malaka tidak hanya secara lisan memberi masalah kepada siswa, namun berusaha untuk mengungkapkan masalah secara langsung, metode serupa dengan metode berpose bermasalah dari Paulo Freire. Dengan metode keempat, sosiodrama, Malaka bertujuan untuk membuat siswa memahami masalah sosial dan menyelesaikannya melalui permainan peran, dan untuk memberikan hiburan untuk menghibur siswa setelah belajar.


Tan Malaka berpose dekat kaca

Tan Malaka Penyamar Ulung. Terkenal dalam dunia penyamaran

Menurut buku karangan Syaifudin (2012). (Tan Malaka: Merajut Masyarakat dan Pendidikan Indonesia yang Sosialistis. Yogyakarta) Seorang Tan Malaka menggunakan 23 alias selama dalam pengasingan dan kejaran kolonial Belanda.

Beberapa Nama Alias Tan Malaka:
  • Menggunakan nama: Elias Fuentes, Esahislau Rivera, dan Alisio Rivera di Filipina.
  • Sementara di Singapura dia menggunakan nama Hasan Gozali.
  • Nama Ossorio digunakan saat berada di Shanghai.
  • Tan Min Sion saat berada di Burma.
  • Sementara di Hong Kong ia menggunakan 13 nama yang berbeda, salah satunya adalah Ong Song Lee.
  • Di bagian lain China ia menggunakan Cheung Kun Tat dan Howard Lee.
  • Sementara di Indonesia ia menggunakan Dasuki, Ramli Hussein, dan Ilyas Husein.


Sejarawan asal Belanda Harry A Poeze menilai Tan Malaka memiliki 14 karakter dan dikenal dunia internasional sebagai tokoh yang berhasil melakukan penyamaran di sejumlah negara selama 20 tahun.

Di Buru Polisi Rahasia di 2 Benua. dan 11 Negara, Menguasai 8 bahasa Asing. 13 kali masuk penjara dan di asingkan ke berbagai tempat oleh kolonial Hindia Belanda. Memiliki 4 jenis pekerjaan, Guru, Kerani, Mandor, Penulis.

"Tan Malaka dikenal sebagai pemikir, aktivis, gerilyawan, diplomat, hingga dituduh sebagai mata-mata," kata Harry A Poeze pada diskusi publik "Pemikiran dan Perjuangan Tan Malaka" di Gedung MPR/DPR/DPD RI di Jakarta, Senin, 27 Maret 2017.

Menurut Harry A Poeze, Tan Malaka setelah selama sekitar 20 tahun mengembara, di Asia dan Rusia, kembali ke Indonesia pada 1942.


Sejarawan dari Universitas Indonesia, Mohammad Iskandar menilai, Tan Malaka adalah pejuang yang kesepian dan tokoh misterius.

Hingga akhir hayatnya, Tan Malaka dikabarkan tidak penah menikah, tetapi ia mengakui pernah 3 kali jatuh cinta, yaitu di Belanda, Filipina, dan Indonesia . Di Belanda, Tan Malaka dikabarkan pernah menjalin hubungan dengan gadis Belanda bernama Fenny Struyvenberg, mahasiswa kedokteran yang kerap berdatang ke rumah kost-nya. Sementara di Filipina, ada seorang gadis bernama Carmen, puteri bekas pemberontak di Filipina dan rektor Universitas Manila. Sedangkan saat ia masih di Indonesia, Tan pernah jatuh cinta kepada satu-satunya siswi perempuan di sekolahnya saat itu, yakni Syarifah Nawawi .  Alasan Tan Malaka tidak menikah adalah karena  perhatiannya terlalu besar untuk perjuangan kemerdekaan Indonesia

Tan Malaka dalam perjuangannya, kata dia, berpindah-pindah dari suatu tempat ke tempat lainnya dan dari suatu negara ke negara lainnya, dengan berganti-ganti-nama.

Tan Malaka sukses dalam penyamarannya menggunakan 23 nama berbeda, karena fasih menggunakan sejumlah bahasa, baik bahasa Indonesia, Inggris, Belanda, Rusia, Fipilina, dan bahasa lainnya.

Pengaruh Tan Malaka Pada Tokoh Kemerdekaan

Yang terpengaruh pemikiran Tan Malaka adalah Pertama, Sukarno sendiri tentu saja. Lantas, W.R. Supratman, Muhammad Yamin, Adam Malik, untuk menyebut beberapa dari antaranya. Tujuan akhir Tan? Keadilan. Lebih dari apa pun, keadilan yang riil.

Bila akhirnya kita memilih untuk mendepak figurnya dari pemahaman kita tentang sejarah Indonesia—dan mengafirmasi politik-politik ketakutan yang berusaha memanipulasi kita—saya yakin, yang terjadi selanjutnya adalah hantunya kian menggerogoti kita. Selepas kematiannya yang terlalu dini, para pejabat Indonesia yang baru merdeka waktu itu sangat jelas merasa terhantui dengannya. Hatta langsung mencopot Soengkono, Panglima Divisi Jawa Timur, dan Soerahmad, Komandan Batalion Sikatan di Kediri. Sukarno menyandangkan kepada Tan gelar Pahlawan Nasional pada tahun 1963.

Poeze (seorang yang meneliti Tan Malaka) menjelaskan secara rinci bagaimana tentara TNI melarikan diri ke pegunungan dan bagaimana Tan Malaka, yang sudah terluka, masuk ke dalam pos TNI dan segera dieksekusi pada tanggal 21 Februari 1949. Malaka ditembak mati di kaki Gunung Wilis, Selopanggung, Kabupaten Kediri setelah ditangkap dan ditahan di desa Patje. Menurut Poeze, tembakan tersebut diperintahkan oleh Letnan Dua Sukotjo dari batalyon Sikatan, divisi Brawijaya. Tidak ada laporan yang dibuat dan Malaka dimakamkan di hutan. Meski dalam peneulusuran Poeze selanjutnya, tidak ditemukan DNA secara pasti pada tulang belulang di akam Selopanggung. Sehingga bagaimana meninggalnya serta tempat makan Tan Malaka mesih misteri hingga kini.
Sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Asvi Warman Adam mengatakan, tim forensik yang memeriksa DNA Tan Malaka belum juga menemukan kepastian setelah menggali makam di Selopanggung pada 12 November 2009.

"Yang jadi masalah, dokter Djaja Surya Atmadja tidak mengakui kalau gagal mendapatkan DNA Tan Malaka karena menghilang," ujarnya.

Asvi mengatakan, bukti sejarah Tan Malaka berdasarkan penelitian Harry Poeze yang menyebutkan makam Tan Malaka di Selopanggung merupakan kualifikasi 90 persen untuk bisa memindahkan jenazah Tan Malaka ke Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta.


Tan Malaka dalam karya fiksi

Dengan julukan Patjar Merah Indonesia, Tan Malaka merupakan tokoh utama beberapa roman picisan yang terbit di Medan. Roman-roman tersebut mengisahkan petualangan Patjar Merah, seorang aktivis politik yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, dari kolonialisme Belanda. Karena kegiatannya itu, ia harus melarikan diri dari Indonesia dan menjadi buruan polisi rahasia internasional.

Salah satu roman Patjar Merah yang terkenal adalah roman karangan Matu Mona yang berjudul Spionnage-Dienst. Nama patjar merah sendiri berasal dari karya Baronesse Orczy yang berjudul Scarlet Pimpernel, yang berkisah tentang seorang pahlawan Revolusi Perancis.

Dalam cerita-cerita tersebut selain Tan Malaka muncul juga tokoh-tokoh PKI dan PARI lainnya, yaitu Musso (sebagai Paul Mussotte), Alimin (Ivan Alminsky), Semaun (Semounoff), Darsono (Darsnoff), Djamaluddin Tamin (Djalumin) dan Soebakat (Soe Beng Kiat). Kisah-kisah fiksi ini turut memperkuat legenda Tan Malaka di Indonesia, terutama di Sumatera.

Belakangan, selepas reformasi kemudian muncul pula dua novel yang mengisahkan perjalanan hidup Tan Malaka. Tiga buku pertama ditulis oleh Matu Mona, sementara yang keempat dan kelima ditulis oleh Yusdja.: Sedangkan novel yang keenam dan ketujuh masih-masing ditulis oleh Peter Dantovski dan Hendri Teja.










Novel Fiksi tentang Tan Malaka

    Spionnage-Dienst (1938)
    Rol Patjar Merah Indonesia cs(1938)
    Panggilan Tanah Air (1940)
    Moetiara Berloempoer: Tiga Kali Patjar Merah Datang Membela (1940)
    Patjar Merah Kembali ke Tanah Air (1940)
    Setan Merah: Muslihat Internationale Tan Malaka (2012)
    Tan : Sebuah Novel (2016)

Buku dan Tulisan Karya Tan Malaka

    Parlemen atau Soviet - Parliamentary or Soviet (1920)
    SI Semarang dan Onderwijs - SI Semarang and Education (1921)
    Dasar Pendidikan - Basic of Education (1921)
    Tunduk Pada Kekuasaan Tapi Tidak Tunduk Pada Kebenaran - On the Subject of Power, But Not in Truth (1922)
    Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia) - Towards of the Republic of Indonesia (1924)
    Semangat Muda - Spirit of Youth (1926)
    Massa Actie - Mass Action (1926)
    Local Actie dan National Actie (1926)
    Pari en Nasionalisten - Pari and Nationalism (1927)
    Pari dan PKI - Pari and PKI (1927)
    Pari International (1927)
    Manifesto Bangkok (1927)
    Aslia Bergabung - Aslia Merge (1943)
    Madilog - Materialism, Dialectics, and Logic (1943)
    Muslihat - Deception (1945)
    Rencana Ekonomi Berjuang - Struggling Economic Plans (1945)
    Politik - Politics (1945)
    Manifesto Jakarta (1945)
    Thesis (1946)
    Pidato Purwokerto - Purwokerto Speech (1946)
    Pidato Solo - Solo Speech (1946)
    Islam dalam Tinjauan Madilog - Islam in Madilog Views (1948)
    Gerpolek (Gerakan Politik Ekonomi) - Political Economy Movement (1948)
    Pidato Kediri - Kediri Speech (1948)
    Pandangan Hidup - Views of Life (1948)
    Kuhandel di Kaliurang - I'm Holding in Kaliurang (1948)
    Proklamasi 17-8-45, Isi dan Pelaksanaanya - 17-8-45 Proclamation, Contents and Implementation (1948)
    Dari Pendjara ke Pendjara - From Jail To Jail (1970)





Sumber:
http://www.dw.com/id/tan-malaka-hantu-republik-yang-tak-bisa-digebuk/a-38997424
https://en.wikipedia.org/wiki/Tan_Malaka
 https://id.wikisource.org/wiki/Madilog
https://merahputih.com/post/read/tan-malaka-bad-boy-dari-lembah-suliki-bagian-1
https://www.antaranews.com/berita/416024/kisah-di-balik-tewasnya-tan-malaka
https://daerah.sindonews.com/read/1256055/23/guru-besar-ui-tan-malaka-hafal-alquran-marxisme-pilihan-jalan-melawan-penjajah-1510239783
Sumber Image: Google.
Previous
Next Post »