Waktu yang Baik dan Tepat Berbicara Menasehati Anak Kita

waktu tepat menasehati anak

Waktu yang Tepat Berbicara pada Anak dan Menasehati Anak. Masa kanak-kanak merupakan masa dimana anak belajar beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Ia melihat dan mendengar berbagai hal yang berada di sekelilingnya. Semua itu akan menimbulkan pengaruh pengaruh tertentu ke dalam jiwa atau kepribadiannya. Bila dalam lingkungan dimana anak berada terdapat hal-hal yang buruk yang kemudian dicontoh oleh anak, biasanya orang tua akan langsung menegur dan memberi arahan kepada anak.

Sudah menjadi tugas orang tua harus bisa memberi pengarahan kepada anak. Namun kadangkala anak sulit diarahkan, ia lebih memilih keinginannya sendiri sehingga terkesan membantah atau membangkang kepada orang tua. Hal ini sering menyebabkan anak-anak dimarahi bahkan dipaksa menuruti kemauan orang tua, akhirnya timbullah ketidaknyamanan dalam diri anak yang terkadang bisa berpengaruh terhadap perilakunya dalam tahap perkembangan selanjutnya.

Dalam hal ini anak perlu bimbingan yang harus disampaikan dalam bahasa yang ia pahami. Ketika anak berperilaku kurang baik sebenarnya anak-anak sedang membutuhkan nasehat dan arahan yang baik yang bisa dimengerti oleh mereka dan kemudian diberikan bimbing untuk melakukan perubahan perilaku ke arah yang lebih baik.
Orang tua seyogyanya memperhatikan dan memilih waktu yang tepat untuk menasehati anak agar hasilnya optimal. Waktu yang tepat dalam menasehati anak pada dasarnya merupakan suatu saat atau keadaan dimana anak dalam keadaan siap menerima nasehat dan arahan, sehingga apa yang dikatakan orang tua bisa membekas dalam hati anak.

Mengapa orang tua sebaiknya menyampaikan nasehat kepada anak pada waktu yang tepat?, karena adakalanya kondisi anak sedang baik maka pada kondisi ini ia mudah dinasehati dan bila kondisinya sedang tidak kondusif maka agak sulit dinasehati, seperti anak lagi marah-marah atau sedang kesal karena punya suatu keinginan yang belum dipenuhi, dan lain sebagainya.

Berikut ini beberapa waktu yang baik digunakan untuk menasehati anak-anak, diantaranya sebagai berikut:
1. Saat rileks
Ketika rilek atau sedang santai di rumah misalnya sedang nonton tv, sedang berkumpul bersama keluarga dalam suasana yang hangat, orang tua bisa menasehati anak-anak dengan berbagai cara, bisa dengan cara langsung namun disampaikan dengan kelembutan sambil mengusap-usap kepala anak, atau dengan cara tidak langsung melalui cerita maupun kisah-kisah yang isinya menceritakan akibat-akibat yang ditimbulkan oleh perilaku yang tidak dan ganjaran-ganjaran yang akan diterima oleh anak-anak yang berperilaku baik. Dengan demikian anak-anak bisa mencerna cerita tersebut dan menerapkannya dalam kehidupannya.

2. Saat rekreasi
Saat rekreasi dimana orang tua bersama anak-anak pergi ke suatu tempat yang dituju untuk mengisi waktu libur atau waktu senggang merupakan saat dimana kondisi badan dan kejiwaan anak-anak sedang bergembira. Pikiran anak-anak sedang fokus kepada tempat yang sedang mereka tuju. Saat dalam perjalanan inilah orang tua bisa menyampaikan nasehat-nasehat yang baik kepada anak-anak dan memperbaiki perilaku mereka yang kurang baik.

Tempat rekreasi yang indah juga sangat baik dan mendukung suasana pengarahan dari orang tua bisa berjalan dengan baik karena anak merasa senang dan dalam kondisi yang bebas tidak dalam kondisi tertekan. Di dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Rasulullah saw suka memberi nasehat kepada sahabat ketika melakukan perjalanan, termasuk kepada Ibnu ‘Abbas yang saat itu masih terbilang remaja.

3. Ketika makan bersama
Saat makan bersama dengan keluarga merupakan saat yang penuh kehangatan, dimana anak-anak merasa senang dan terlihat tidak sabar ingin menyantap hidangan yang disajikan. Saat itulah orang tua bisa memberikan pengarahan dan nasehat-nasehat kepada anak-anak. Kondisi anak-anak yang sedang asik menyantap makanan memungkinkan mereka bisa menerima nasehat tanpa merasa tertekan sehingga nasehat bisa meresap ke dalam jiwanya.

4. Ketika sakit
Ketika sakit kondisi tubuh anak-anak sedang lemah dan kondisi kejiwaannya sedang dalam kondisi yang lunak sehingga mereka lebih mudah menerima nasehat. Saat sakit inilah merupakan waktu yang tepat yang suka digunakan oleh Rasulullah saw untuk mengajak seseorang masuk Islam, bahkan ada anak Yahudi yang menyambut ajakan Rasulullah saw untuk masuk Islam ketika beliau saw menjenguknya saat ia sakit.

Salah satu sarana untuk mengajari anak adalah melalui proses komunikasi yang intensif dengan cara berbicara secara langsung kepada anak. Pemikiran anak-anak masih sangat sederhana dan masih dalam proses perkembangan sehingga ketika berbicara dengan anak-anak harus memperhatikan hal-hal yang bisa membuat anak mudah menyerap atau memahami kalimat-kalimat yang disampaikan.



Berikut ini cara Cara Efektif Berbicara dengan Anak-anak
1. Katakan dengan terus-terang
Katakan dengan langsung seperti menggunakan kalimat panggilan “Anakku,…..” , atau “Wahai anakku,….” dan seterusnya, jangan membuat kata-kata sindiran atau bersifat puitis yang sulit dipahami.

2. Jangan bertele-tele
Katakan langsung pada inti atau pokok pembicaraan yang ingin disampaikan, jangan berbelit-belit kesana kemari dulu lalu mengatakan inti pembicaraan, hal ini mengingat daya tangkap atau pemikiran anak masih sederhana belum bisa menerima hal-hal yang bersifat kompleks atau rumit.

Dengan mengatakan secara langsung pokok-pokok pikiran yang akan disampaikan akan membuat anak-anak mudah mencerna perkataan yang diterimanya serta memudahkan untuk menghafalnya sehingga akan mudah meresap di dalam benak anak-anak.

Berbicara kepada anak dengan ringkas, padat dan jelas akan membantu mereka untuk lebih siap menerima materi pembicaraan yang disampaikan dan lebih kuat tertanam didalam pemikiran mereka sehingga mereka lebih mudah memahami perkataan yang diterimanya. Kesiapan anak menerima pengajaran merupakan hal yang penting dan harus benar-benar diperhatikan. Ketika anak berada dalam kondisi siap menerima pengajaran, mereka akan lebih fokus, serius dan benar-benar mencerna apa yang disampaikan. Hal ini sangat baik untuk perkembangan jiwa mereka karena mereka bisa mendapat pengajaran dengan suasana hati yang gembira tidak dalam kondisi tertekan karena sulit memahami apa yang disampaikan.

3. Sesuaikan dengan tingkat intelektualitasnya
Bila seseorang mengetahui tingkat pertumbuhan dan perkembangan akal anak-anak tahap demi tahap, maka akan lebih mudah mengenali dan memahami tingkat intelektualitas anak-anak. Pengetahuan seperti itu akan banyak membantu dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapi oleh anak-anak sehingga bisa dirumuskan solusi-solusi yang efektif dalam menyampaikan pengajaran yang mudah dimengerti oleh anak-anak dari mulai pemilihan kata-kata dan kalimat yang mudah dicerna serta tema-tema pembicaraan seperti apa yang menarik bagi anak-anak sehingga mereka bisa berinteraksi dengan respek dan aktif.

Sebuah kisah yang terjadi pada perang badar dimana para sahabat menangkap seorang anak gembala orang Quraisy. Para sahabt menanyai anak tersebut jumlah pasukan Quraisy yang sudah disiapkan untuk berperang, dan si anak tidak bisa menjawab pertanyaan itu dengan lancar sehingga para sahabat memukulinya. Kemudian datanglah Rasulullah saw dan bertanya kepada anak tersebut: “Berapa unta yang mereka sembelih?”, anak tersebut memberi jawaban sekitar Sembilan atau sepuluh ekor, kata baginda Rasul “Berarti jumlah pasukan Quraisy sekitar Sembilan ratus sampai seribu orang”.

Dalam kisah tersebut jelas sekali bahwa Rasulullah saw memahami segi kejiwaan anak beserta tingkat intelektualitasnya sehingga beliau bertanya jumlah unta yang disembelih bukannya jumlah pasukan yang jelas mencapai ratusan mendekati seribu orang. Menurut ahli pendidikan, pertanyaan Rasulullah sedemikian karena Rasul saw mengetahui tingkat intelektualitas anak tersebut tidak memahami bilangan ribuan, namun terbatas pada bilangan puluhan sehingga beliau menanyakan jumlah unta yang disembelih yang secara sepintas lalu bisa dihitung karena ukuran unta besar-besar. Dengan demikian Rasulullah saw bisa berkomunikasi dengan anak tersebut karena beliau memahami tingkat intelektualitasnya.

Rasulullah saw suatu ketika bertanya kepada seorang anak dengan pertanyaan “Hai Aba Umair sedang apa burung kecil itu?”, hal ini menggambarkan bahwa Rasulullah memahami kadar nalar anak-anak dan beliau bertanya tentang apa yang ia ketahui, pahami dan rasakan. Jadi para orang tua dan pendidik hendaklah berbicara kepada anak-anak dengan bahasa yang singkat dan pendek serta sesuai dengan tingkat intelektualitas mereka.
Previous
Next Post »