Membentuk akhlak yang mulia yang harus ditunaikan kepada anak-anak



Membentuk akhlak anak. Anak-anak memiliki hak-hak tertentu dalam pendidikan yang harus diberikan oleh orang tua dan para pendidiknya untuk bisa tumbuh dan berkembang secara baik didasari dengan teladan akhlak yang mulia sehingga mereka kelak bisa menumbuhkembangkan kepribadian yang positif yang akan mereka bawa dalam kehidupannya di masa mendatang. Hak-hak yang sangat penting dan memiliki urgensi yang tinggi sebagai sarana membentuk akhlak yang mulia yang harus ditunaikan kepada anak-anak diantaranya sebagai berikut:

1. Memahami
Orang tua dan para pendidik harus memahami perkembangan intelektual dan psikologikal (kejiwaan) anak-anak agar bisa memberi pendidikan yang sesuai dengan usia fisik dan usia mental mereka, sehingga mereka bisa menerima pendidikan dengan baik, gembira dan bahagia tidak dalam tekanan atau beban-beban akademis yang terlalu melelahkan. Kegembiraan jiwa anak-anak akan menumbuhkan semangat yang positif untuk senantiasa belajar dan mengembangkan bakat. Minat serta kepribadian mereka.

2. Berempati
Anak-anak sebagaimana orang dewasa juga membutuhkan empati atau sikap penerimaan, pengakuan dan penghargaan dari orang tua dan para orang dewasa di sekitarnya, bukan kritikan atas apa yang dilakukan anak-anak. Sebagaimana kita ketahui anak-anak masih dalam proses mengenal dan berusaha beradaptasi dengan lingkungan dimana mereka berada. Bila mereka berbuat salah hak mereka yang harus diberikan orang dewasa adalah berempati dan memberi nasehat yang baik yang sesuai dengan keadaan jiwanya, bukan kritikan apalagi keritikan yang tajam atau disertai sikap marah yang membuat anak-anak merasa tertekan, tidak nyaman dan ketakutan.
Manfaat bersikap empati bagi anak-anak adalah menanamkan sifat-sifat positif dalam diri mereka agar mereka bisa memandang dan menghadapi segala sesuatu yang mereka hadapi secara baik. Anak-anak akan memahami bahwa dalam kehidupan ini ada memberi dan menerima.

Selain itu sikap empati yang diterima anak-anak akan menumbuhkan kebiasaan dalam diri mereka untuk berkarakter adil dan bijaksana. Dan juga membiasakan diri patuh kepada kebaikan dan kebenaran sebab ia memperoleh teladan tersebut

Sikap empati yang telah tumbuh dalam jiwa anak-anak bisa mendorong kemampuan mereka dalam mengungkapkan apa yang ada dalam dirinya serta belajar memahami cara menuntut hak-haknya.
Sikap-sikap dan cara mendidik yang dilakukan sebagai kebalikan dari sikap empati ini seperti memberi tekanan, menumpahkan kemarahan kepada anak-anak dan lain sebagainya akan membawa resiko buruk bagi mereka diantaranya bisa mengubur potensi kemampuan-kemampuan baik yang masih terpendam dalam diri anak yang diharapkan bisa berkembang dengan baik dan sempurna.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam bukhari dan Muslim, bahwa Sahabat Sahl bin Sa’ad as Sa’idi meriwayatkan bahwa Rasulullah saw diberi minum lalu beliau meminumnya, saat itu di samping kanan Beliau saw ada seorang anak kecil dan di samping kiri Beliau saw terdapat orang-orang yang sudah tua. Lalu Rasulullah saw bertanya kepada anak di samping kanannya, Apakah anak tersebut mengizinkan bila Rasulullah saw memberikan air minum itu kepada orang-orang yang sudah tua terdahulu (yang berada di samping kiri Beliau saw). Anak kecil itu tidak memberikan izin orang lain meminum air sisa Rasulullah saw. Lalu rasulullah saw memberikan air minum tersebut kepada anak tersebut yang berada di samping kanan beliau terlebih dahulu baru kemudian kepada orang-orang dewasa yang berada di sebelah kiri beliau.

Inilah akhlak Rasulullah saw yang konsisten dengan ucapan beliau dimana harus mengutamakan teman duduk yang berada di sebelah kanan walaupun dalam kenyataannya ia adalah anak kecil. Hal ini bisa mengajarkan kepada semua orang termasuk kepada anak kecil bahwa beliau selalu menjadi teladan yang baik.

3. Menasehatinya
Ketika anak-anak melakukan kesalahan mereka membutuhkan nasehat, bukan celaan dan hukuman. Nasehat yang baik bisa memberi kesempatan kepada mereka untuk belajar dari kesalahan sehingga mereka bisa belajar melakukan perbaikan, juga pemahaman bagaimana berbuat baik dan mengembangkan perbuatan baik. Hal ini merupakan hak anak yang harus diberikan agar anak-anak tumbuh kembang secara seimbang dan tidak dalam tekanan.
Previous
Next Post »