Kadar Kafein Kopi Arabika Kopi Robusta dan Kopi Luwak

Kadar Kafein Kopi Arabika Kopi Robusta dan Kopi Luwak. Kadar kafein kafeina pada kopi arabika, kopi robusta dan kopi luwak berbeda-beda. Kadar kafein atau kafeina kopi arabika dari satu daerah dengan daerah lain bisa berbeda, demikian juga kopi robusta, hal ini sangat tergantung dari proses pengolahan kopi apakah biji kopi diolah dengan cara kering? Atau cara basah?. Perbedaan cara pengolahan akan menghasilkan kadar kafein yang berbeda.

Kopi luwak sendiri terdiri dari kopi luwak arabika dan kopi luwak robusta, keduanya memiliki kadar kafein yang berbeda-beda. Untuk kopi luwak perbedaan kadar kafein sangat ditentukan pula oleh jenis luwak pemakan kopi apakah kopi berasal dari luwak pandan? Atau luwak bulan? atau lainnya, hal ini akan menghasilkan kopi luwak dengan kadar kafein yang berbeda-beda. Namun secara umum beberapa literatur dan hasil penelitian mengungkapkan kandungan kadar kafein kopi arabika, kopi robusta dan kopi luwak. Mari kita simak perbedaannya.



Kopi menurut Standar Nasional Indonesia (SNI 01-29072008) adalah biji dari tanaman Coffea spp dalam bentuk bugil dan belum disanggrai [1]. Biji kopi yang kulitnya sudah dikelupas sering disebut sebagai “kopi beras”, biji kopi “beras” ini merupakan biji kopi yang sudah melalui proses pengolahan dari mulai pengelupasan kulit kopi, fermentasi untuk menghilangkan lender-lendir pada biji kopi yang sudah di kelupas kulitnya dan kemudian dilakukan proses pengeringan.

Biji kopi yang sudah diolah merupakan biji kopi yang siap dijual. Biji kopi “beras” ini ada yang belum disangrai atau berbentuk kopi hijau, dan ada biji kopi yang diolah lagi dengan disangrai menggunakan pemanasan dengan derajat panas yang berbeda-beda tergantung kebutuhan.


Jenis kopi utama yang dibudidayakan di Indonesia

Indonesia merupakan negara penghasil kopi terbesar ketiga di dunia setelah Brazil dan Vietnam, hal ini disebabkan lahan perkebunan kopi di Indonesia cukup besar yang tersebar di daerah sumatera, jawa, Sulawesi dan daerah lainnya.

Varietas atau jenis kopi utama yang dibudidayakan di Indonesia terdiri dari kopi robusta (Coffea robusta) dan kopi arabika (Coffea arabica). Kopi arabika masih menjadi produk kopi andalan Indonesia dengan nilai jual yang lebih tinggi dari kopi robusta, namun produksi kopi robusta Indonesia terbilang cukup besar terutama di daerah sumatera.

Hasil pengolahan biji kopi yang siap jual sampai menjadi kopi “beras” yang belum disangrai dan biji kopi yang sudah disangrai. Biji kopi yang sudah disangrai memiliki kandungan senyawa kimia (penelitian Fisk, et al, 2012) diantaranya E, E-2, 2-Acetylpyridine, 2-Acetylpyrazine, 4-Decadienal, 2-Ethyl-3,6-dimethylpyrazine, 2-Methylbutanal dan 3-Methylbutanal, 2-Methylbutanoic acid, 3-Methylbutanoic Acid dan 2,3-Pentanedione [2].

Kopi Luwak

Kopi luwak merupakan komoditas unggulan ekspor Indonesia. Kopi luwak adalah kopi jenis arabika atau robusta yang dimakan oleh hewan luwak, namun biji kopi tersebut tidak bisa dicerna di dalam perut luwak sehingga mengalami fermentasi alami di perut luak kemudian dikeluarkan lagi bersama kotoran luwak.

Biji kopi yang sudah dikeluarkan dari perut luwak di olah kembali dengan proses pengolahan yang terstandar, sehingga menghasilkan biji kopi yang memiliki citarasa dan aroma yang khas. Biji kopi luwak terdiri dari biji kopi arabika luwak atau biji kopi luwak arabika dan biji kopi robusta luwak atau biji kopi luwak robusta.

Biji kopi luwak memiliki nilai jual yang sangat tinggi di pasaran kopi Internasional bahkan termasuk kopi termahal di dunia bersaing dengan kopi gajah dari Thailand. Hasil produksi kopi luwak Indonesia di ekspor ke Arab Saudi, Jepang dan Korea.


Kadar Kafein

Kadar kafein yang dikandung biji kopi berbeda-beda, hal ini tergantung dari jenis kopi dan cara pengolahannya. Misalnya kopi arabika atau kopi robusta yang sudah disangrai memiliki kadar kopi yang lebih rendah dari kopi yang belum disangrai, begitu juga dengan kopi luwak yang sudah disangrai memiliki kadar kopi yang lebih rendah dari kopi yang belum disangrai, karena proses pemanasan akan menurunkan kafein melalui proses sublimasi, dan kafein bisa larut ketika kopi diseduh dengan air panas.

Kandungan kadar kafein kopi arabika, kopi robusta dan kopi luwak ditinjau dari cara pengolahannya akan memberikan hasil yang berbeda. Biji kopi baik arabika maupun robusta juga kopi luwak yang diolah dengan cara pengolahan kering (dry processed) akan memiliki kadar kafein yang lebih rendah dari biji kopi yang diolah dengan cara pengolahan basah (wet prosessed).


Kadar Kafein Kopi Arabika

Biji kopi hijau arabika mengandung kadar kafein dalam kisaran 0,9-1,2 % sedangkan biji kopi arabika yang sudah disangrai memiliki kandungan kafein 1,0 % atau lebih [3]. Disini terlihat bahwa kadar kafein kopi arabika yang disangrai relatif lebih kecil dari kadar kafein kopi arabika yang belum disangrai.

Kadar Kafein Kopi Robusta

Biji kopi hijau robusta mengandung kafein yang berkisar antara 1,6-2,4% dan biji kopi sangrai robusta mengandung kadar kafein 2,0% atau lebih [3]. Biji kopi robusta yang disangrai memiliki kadar kafein yang relatif lebih rendah dari kopi robusta yang belum disangrai.

Baca juga: Kopi Robusta Arome Pekat

Perbandingan Kadar Kafein Kopi Robusta dan Arabika

Beberapa literatur menyebutkan bahwa kadar kafein dari kopi robusta dan kopi arabika berbeda, dan secara umum jenis kopi robusta memiliki kadar kafein yang lebih tinggi dari jenis kopi arabika.

Kadar Kafein Kopi Luwak

Kadar kafein kopi luwak bisa berbeda hal ini sangat tergantung pada jenis kopi (arabika atau robusta), jenis luwak (luwak pandan, luwak bulan/binturong atau lainnya) dan cara pengolahan kopi (pengolahan cara kering atau cara basah, disangrai atau tidak disangrai, dan sebagainya).
Beberapa hasil penelitian menyebutkan bahwa kadar kafein kopi luwak lebih rendah dibanding kadar kafein dari kopi arabika dan kopi robusta biasa (bukan kopi luwak). Hal ini mungkin disebabkan biji kopi luwak sudah melewati proses fermentasi oleh berbagai jenis enzim di dalam perut luwak sehingga mempengaruhi kadar kafein dari kopi biasa dari jenis arabika atau robusta yang dimakan oleh luwak, sehingga ketika sudah keluar dari perut hewan luwak kadar kafein jenis kopi arabika atau robusta biasa menjadi lebih rendah.


Kadar Kafein Kopi Luwak Robusta

Salah seorang peneliti kopi Indonesia (Mahendratta, M. et al, 2012) menyatakan bahwa , dari hasil penelitian kadar kafein dalam kopi luwak dan kopi biasa (bukan kopi luwak) baik dari jenis kopi arabika maupun jenis robusta, dengan luwak berjenis Paradoxurus hermophroditus atau luwak pandan, didapatkan kadar kafein kopi luwak robusta sebesar 1,77 %  [4].

Kadar Kafein Kopi Luwak Arabika

Sementara (Mahendratta, M. et al, 2012) menyatakan hasil penelitian kadar kafein kopi luwak arabika sebesar 1,74 %  [4].

Perbandingan Kadar Kafein Kopi Luwak Robusta dan Arabika

Disini jelas terlihat bahwa kadar kafein kopi luwak robusta lebih besar dari kadar kafein kopi luwak arabika.


Perbandingan Kadar Kafein Kopi Luwak dan Kopi Biasa

Perbandungan kadar kafein kopi arabika, kopi robusta dan kopi luwak yang didapatkan dalam penelitian tersebut diantaranya kadar kafein dari kopi robusta biasa (buka kopi luwak) sebesar 1,91 % dan kadar kafein kopi arabika biasa (buka kopi luwak) 1,85 %, disini dapat terlihat bahwa ternyata kadar kafein kopi luwak (baik kopi luwak robusta dengan kadar kafein 1,77 %  maupun kopi luwak arabika dengan kadar kafein 1,74 %) lebih kecil dari kadar kafein kopi biasa baik dari jenis robusta maupun arabika.

Kopi luwak robusta memiliki kadar kafein yang lebih rendah sebesar 0,14 % dari kopi robusta biasa, dan kopi luwak arabika memiliki kadar kafein yang lebih rendah sebesar 0,11 % dari kopi arabika biasa. Kandungan kadar kafein kopi arabika, kopi robusta dan kopi luwak

 Demikian inforamsi tentang  Kadar Kafein Kopi Arabika Kopi Robusta dan Kopi Luwak.

(Red: Agyan Giaryana)




Rujukan:

[1] Badan Standarisasi Nasional. (2008).Biji Kop  (SNI No.01 -2907-2008). Badan Standarisasi Nasional.

[2] Fisk,I. D., Kettle, A., Hofmeister, S., Virdie, A.,& Kenny, J.S. (2012). Discrimination of roast and ground coffee aroma.Flavour,1(1),1.

[3] Clarke, R. J. and Macrae, R. (1987). Coffee Technology (Volume 2). Elsevier Applied Science, London  and New York.

[4] Mahendratta, M., Zainal., Israyanti., Tawali, A.B. (2013). Perbandingan Karakteristik Kimia    Dan Nilai Sensori Antara Kopi Luwak Dan Kopi Biasa Dari Varietas Arabica (Coffea Arabica.L) Dan Robusta (Coffea canephora.L). Universitas Hasanuddin.
   
Previous
Next Post »