Cara Memberikan Pelatihan pada Anak sehingga berkembang lebih sempurna

cara pelataihan pada anak

Cara Memberikan Pelatihan pada Anak sehingga berkembang lebih sempurna. Sudah menjadi kodrat anak-anak dimana mereka selalu bergerak untuk senantiasa mengembangkan kemampuan dirinya baik mengembangkan fisik maupun mentalnya, hal ini merupakan dorongan alami dari dalam dirinya sebagai tugas perkembangan yang sedang ia jalani. Agar perkembangannya baik orang tua dan para pendidik perlu melatih dan mengarahkan mereka.
Pelatihan secara fisik akan berpengaruh kepada mental anak, artinya antara faktor fisik dan mental anak ada saling kesinambungan. Pelatihan dengan kedua tangan anak akan mengaktifkan syaraf-syaraf otak mereka.

Pelatihan bagi anak bisa bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan anak sehingga berkembang lebih sempurna. Anak akan melihat contoh yang diberikan lalu mengulanginya dan diharapkan anak akan tahu dan mengerti.
Manfaat lain:
- Manfaat fisik dan psikomotorik bagi anak adalah meningkatkan keterampilan anak.
- Manfaat psikis (mental) dari pelatihan adalah melatih kesabaran, fokus dan sungguh-sungguh dlam melakukan tugas.
- Manfaat intelektual dan intelijensi adalah terbukanya pemikiran dan wawasan anak.
Baca juga: Membentuk akhlak yang mulia yang harus ditunaikan kepada anak-anak

Dalam memberikan pelatihan pada anak hendaklah orang tua dan pendidik memperhatikan hal-hal berikut ini:
1. Pemberian materi dan tugas sesuai usia anak
Pemberian tugas hendaklah disesuaikan dengan usia dan kemampuan anak, misalnya usia anak kecil diberi tugas mencuci beberapa buah piring saja jangan banyak-banyak karena akan membuat lelah dan bosan, tidak boleh menugaskan membawa beban terlalu berat.

2. Pemberian tugas disesuaikan dengan jenis kelamin anak
Sesuaikanlah tugas dengan jenis kelamin anak-anak, seperti anak laki-laki dilatih mengangkat beban yang lebih berat dari anak perempuan, sementara anak perempuan diberi tugas yang sesuai dengan kemampuannya seperti mencuci piring, belajar mengasuh anak kecil, menyapu lantai dan lain sebagainya.

3. Bertahap dan terstruktur
Bertahap dari yang paling mudah dan sederhana lalu ditingkatkan menjadi lebih banyak

4. Memaklumi anak
Segala bentuk perlakuan orang tua dan pendidik akan memberi bekas didalam jiwa anak. Bila anak melakukan kesalahan dalam melakukan tugas lalu dimarahi dan dicerca, maka perlakuan itu akan menyakiti perasaan anak yang akan berdampak pada penurunan semangat dalam melaksanakan tugas. Sebaiknya bila anak melakukan kesalahan beritahulah secara baik apa kesalahan mereka dan maklumi serta maafkan mereka, kalau memungkinkan suruhlah mereka mengulangi melaksanakan tugas itu hingga benar.

5. Memeriksa dan memantau pelaksanaan tugas awal
Tugas awal merupakan sumber motivasi bagi anak, bila anak berhasil maka akan menentukan semangat mereka melakukan tugas-tugas berikutnya, dan bila gagal bisa saja akan berpengaruh pada semangat mereka melakukan tugas-tugas selanjutnya.
Pada pelaksanaan tugas awal dampingilah anak dan bantulah mereka mengerjakan tugas sampai berhasil, atau pantaulah dan awasilah mereka bila butuh bantuan segera bantu mereka hingga mereka bisa menyelesaikan tugas dengan baik.

6. Waktu yang tepat
Waktu yang baik dan tepat dalam pemberian tugas akan membuat anak mengaerjakan tugas tersebut dengan sungguh-sungguh dan fokus pada apa yang mereka kerjakan. Bila anak-anak sedang asyik melakukan hal baik yang ia senangi janganlah memberikan tugas lain sehingga memotong kesenangannya, tapi biarkanlah dulu hingga mereka selesai dari satu kegiatan, baru setelah itu bisa diberikan tugas atau latihan-latihan lainnya.

7. Memotivasi anak
Anak-anak memerlukan dorongan atau motivasi dalam pelaksanaan tugas agar lebih bersemangat sehingga kemampuan dan potensinya akan senantiasa berkembang. Pemberian motivasi bisa diberikan dengan cara memberikan pujian ketika mereka bisa melaksanakan tugas dengan baik dengan perkataan “Terima kasih”, “Bagus”, dan lain sebagainya. Dorongan sekecil apa pun akan memberi bekas di dalam jiwa mereka.
Dalam sejarah islam dikenal para sahabat selalu melatih anak-anak mereka berpuasa meskipun belum mukallaf yang bertujuan untuk melatih mereka. Para orang tua membuatkan mainan bagi anak-anak untuk menghibur mereka sehingga pelaksanaan tugas tidak terasa berat bagi mereka.
Baca juga: Cara Memotivasi Anak Agar Percaya Diri Dan Berprestasi

Beberapa kendala yang dihadapi anak pada umumnya


Anak-anak merupakan aset yang berharga bagi oreng tua, mereka harus dibina dan dididik agar kelak bisa menjadi orang yang baik dan sukses sehingga bisa membahagiakan kedua orang tua mereka. Orang tua harus mengawasi dan memantau perkembangan anak tahap demi tahap terutama perkembangan psikis dan intelektualnya, karena kedua hal ini seringkali tidak mendapat perhatian yang serius.

Dalam perkembangannya anak sering mengalami kendala-kendala yang mereka hadapi, namun mereka belum bisa memahami kendala yang mereka hadapi dan solusi apa yang harus dilakukan untuk mengatasinya. Disinilah peran orang tua dan pendidik untuk memahami kendala yang dihadapi anak. Salah satu cara untuk mengetahui kendala yang dihadapi anak adalah dengan mengembangkan dialog yang intensif dengan anak.

Dialog dalam suasana yang hangat dan tenang dengan anak dapat memperluas kemampuan akal anak, memperluas wawasan anak sehingga anak lebih memahami realitas kehidupan, mendapat bimbingan yang bersifat solutif.

Berikut ini beberapa kendala yang dihadapi anak pada umumnya dalam perkembangan mereka diantaranya:
1. Kendala kemampuan bersifat motorik
Tubuh anak-anak masih berada pada tahap perkembangan sehingga kemampuan mereka belum betul-betul sempurna, hal ini sering dijadikan alasan bahwa anak-anak belum cukup umur untuk diajak berdialog.

2. Kendala psikis
Kondisi mental anak-anak belum mencapai kematangan dan masih terus berkembang sehingga dianggap belum layak diajak berdialog hal ini berdampak pada kurang diperhatikannya pendapat-pendapat atau keinginan mereka, kebanyakan yang mereka terima hal-hal yang bersifat perintah yang harus mereka kerjakan dan larangan yang tidak boleh mereka lakukan.

3. Kendala kemampuan intelektual
Kemampuan intelektual anak masih belum sepenuhnya obyektif, anak-anak masih belum bisa menbedakan secara sempurna antara kenyataan dengan imajinasi sehingga terkadang bercampur baur antara pemikiran yang logis dengan imajinasi mereka.

Dialog yang dikembangkan dengan anak akan bermanfaat sebagai latihan atau bimbingan bagi mereka untuk mengutarakan pendapat, keinginan sehingga bisa diketahui perkembangan mereka sekaligus kendala-kendala yang mereka hadapi. Dalam hal ini orang tua harus memberi arahan tentang adab dan tata cara dialog yang baik.
Baca juga: Aktivitas-aktivitas yang bisa mengembangkan potensi kecerdasan anak

-Anak mampu mengutarakan pendapat
Kisah seorang anak remaja yang mampu mengutarakan pendapatnya kepada khalifah kelima Umar bin ‘Abdul ‘Aziz dalam suatu kesempatan dialog yang diadakan di tempat khalifah yang baru. Anak remaja sebelas tahun sebagai pimpinan rombongan dari Hijaz datang pada saat pelantikan khalifah, lalu khalifah berdialog dengannya dan ia diminta memberikan nasehat oleh khalifah.

- Merangsang kreativitas anak sehingga anak berani memunculkan gagasan-gagasan mereka
Anak-anak yang sudah terbiasa berdialog dengan baik dengan orang dewasa akan lebih mampu dan berani memunculkan gagasan mereka yang akan mendorong kreativitas mereka.

- Melatih anak agar berani menuntut hak-hak mereka di depan umum
Dalam suatu kisah disebutkan bahwa pada masa Khalifah Umar bin Khathab r.a ada seorang bapak yang mengadukan anaknya kepada khalifah, kemudian ‘Umar r.a memanggil anak tersebut dan bertanya mengapa anak tersebut durhaka kepada bapaknya. Lalu anak itu bertanya kepada ‘Umar r.a, tentang hak-hak anak yang harus dipenuhi oleh bapaknya, Umar menjawab “Memberinya nama yang baik, memilihkan calon ibu yang baik dan mengajarinya Al-Qur’an”, maka anak tersebut mengatakan bahwa bapaknya tidak melaksanakan hak tersebut kepadanya, maka Umar berkata kepada si bapak “Engkau telah durhaka kepada anakmu sebelum anakmu durhaka kepadamu”.

Disini dapat dipetik hikmah bahwa seorang khalifah (sekelas presiden) mau menghargai hak-hak anak-anak sehingga beliau mengkonfirmasi hal-hal yang oleh sebagian orang dianggap tidak popular atau tidak penting kepada anak-anak. ‘Umar r.a terkenal seorang khalifah yang berwatak tegas dan adil, namun sangat menyayangi anak-anak sehingga beliau mau berdialog dengan mereka dan memberikan hak-hak mereka.
Previous
Next Post »