Cara Bagaimana Menumbuhkan Mental Juara pada Anak Dengan Kompetisi

anak mental juara

Cara Bagaimana Menumbuhkan Mental Juara pada Anak. Kompetisi atau persaingan yang sehat bisa menghasilkan mental yang positif bagi anak-anak dan remaja. Anak-anak dan remaja yang sering mengikuti lomba atau kejuaraan rata-rata memiliki mental untuk selalu berlatih dan disiplin agar berprestasi menjadi yang terbaik dan juara.

Orang tua dan para pendidik bisa menanamkan mental juara dan berprestasi pada anak-anak dan remaja misalnya dengan melaksanakan metode “Siapa cepat dia dapat”. Anak-anak yang paling cepat akan diberi hadiah atau sesuatu yang berharga yang sangat mereka inginkan. Hal ini akan membangun mental selalu memimpin dan memanfaatkan potensi dirinya secara maksimal.

Menurut sebagian ahli psikologi ada beberapa potensi yang bisa berkembang dan terbangun dengan baik hanya apabila manusia dihadapkan pada kompetisi. Jadi kompetisi ini bertujuan untuk membangunkan potensi-potensi yang ada dalam diri namun masih tidur dan belum berkembang. Potensi yang dibangunkan dan senantiasa dikembangkan akan bergerak kearah kesempurnaan.

Salah satu potensi yang dibangun dengan kompetisi adalah potensi oleh raga. Olah raga pada anak-anak bertujuan untuk melatih dan menguatkan otot-otot mereka yang sedang berkembang sehingga mereka memiliki badan yang sehat dan kuat.

Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Rasulullah saw senang melalukan lomba lari dengan anak-anak dan remaja yang bermanfaat untuk melatih otot-otot mereka agar makin kuat.
Beberapa hal positif yang bisa didapatkan dari kompetisi diantaranya sebagai berikut:

1. Menanamkan semangat persaingan sehat
Semangat untuk mampu bersaing secara sehat sangat baik untuk perkembangan mental anak-anak. Anak-anak saat ini akan dihadapkan pada kompetisi dalam kehidupannya kelak. Apalagi saat ini sedang terjadi kompetisi global di berbagai bidang kehidupan dimana bangsa ini membutuhkan sumber daya manusia yang mempunyai mental juara untuk tetap eksis dan menjadi pemimpin.

2. Disiplin berlatih agar juara
Saat akan menghadapi perlombaan, anak-anak akan giat berlatih agar menguasai mata lomba. Hal ini merupakan pendidikan untuk senantiasa menumbuhkan karakter disiplin dan rajin berlatih, juga mengembangkan mental yang aktif, giat dan cepat tanggap jauh dari sifat pasif dan malas. Mental-mental tersebut merupakan mental positif yang benar-benar dibutuhkan dalam kancah persaingan global saat ini.

3. Mengembangkan karakter sportif
Karakter sportif yakni bermain dengan cantik sesuai aturan yang berlaku dan menghindari kecurangan saat bertanding merupakan karakter yang harus dibangun untuk mencetak anak-anak yang bermental juara. Anak-anak yang terbiasa berlomba dengan menjunjung sportivitas akan gembira manakala memenangkan kompetisi dan sebaliknya tidak akan bersedih atau lemah semangat ketika kalah dalam kompetisi, namun mereka akan lebih terpacu untuk terus berlatih sehingga kemempuannya bisa makin sempurna.

Orang tua atau para pendidik dituntut untuk bisa menanamkan mental sportif bagi anak-anak mereka sehingga menang atau kalah dalam pertandingan bukan ukuran utama, tapi semangat untuk maju dan giat berlatih serta mampu bermain sesuai aturan merupakan hal yang utama yang harus tertanam sebagai pendidikan karakter untuk perkembangan mereka kelak.

4. Kegembiraan dan kebanggaan mendapat hadiah
Perasaan senang dan gembira ketika memperoleh kemenangan dalam pertandingan serta kebahagiaan saat memperoleh hadiah merupakan perwujudan rasa suka cita menikmati keberhasilan setelah selama ini giat berlatih tak kenal lelah.

Perasaan ini akan menumbuhkan mental positif untuk terus berkarya dan berprestasi. Disamping itu anak-anak yang juara akan memiliki kebanggaan tersendiri serta ingin memperlihatkan hasil kemenangan mereka kepada orang tua dan para pendidik mereka. Hal ini akan memupuk rasa percaya diri yang semakin besar.
Sebaliknya anak-anak yang belum bisa mempersembahkan kemenangan mereka kepada orang tua dan para pendidiknya harus dihibur dan dibesarkan hatinya serta diberi pujian yang layak karena sudah bermain dengan sportif, kekalahan bukan masalah tapi harus menjadi sarana untuk terus berlatih agar memperoleh keberhasilan di masa mendatang.

Setiap orang tua tentunya akan terus menerus dan tiada jemu menjaga dan melindungi anak-anak mereka. Selain menjaga proses tumbuh kembang tubuh mereka orang tua selayaknya melindungi dan terus menjaga pertumbuhan mental mereka, karena pertumbuhan mental yang baik akan membantu menumbuhkan kemauan anak yang positif, ketahanan dalam menghadapi berbagai perubahan lingkungan dengan kemampuan beradaptasi yang baik, serta kemampuan mengungkapkan apa yang mereka rasakan terhadap orang lain dan kemampuan mempertahankan hak-hak mereka.


Agar anak-anak terhindar dari perasaan yang negatif


Beberapa hal penting yang harus diperhatikan orang tua dari anak-anak mereka agar anak-anak terhindar dari perasaan yang negatif adalah bimbingan yang penuh kasih sayang dan penjagaan agar anak-anak tidak mengalami hal-hal negatif berikut ini:

- Keterpurukan mental
Keterpurukan mental anak terjadi manakala anak terjerumus kepada hal-hal yang negatif sebagai reaksi terhadap apa yang dirasakannya. Mereka memiliki perasaan tidak nyaman dan tertekan lalu munculah perilaku negatif dan akhirnya menyebabkan keterpurukan mental dimana mereka merasa tidak mempunyai siapa-siapa yang bisa dijadikan tempat untuk berlindung, dikhawatirkan mereka berlaku anarkis dan destruktif atau merusak, mencelakakan teman dan lain sebagainya.

- Perasaan mengalami kegagalan dan ketidakmampuan
Salah satu sikap mental negatif yang bisa menimpa pada anak adalah perasaan mereka yang seolah-olah merasa gagal dan merasa tidak mampu berprestasi seperti anak-anak lain yang sebaya dengan mereka atau tidak mampu menjadi seperti yang diinginkan orang tua mereka. Sikap seperti ini terjadi manakala ada kegagalan dalam menjalin komunikasi yang baik antara orang tua dan anak, sehingga anak merasa kini tidak disayangi lagi oleh orang tua mereka tidak seperti dulu waktu masih sangat kecil selalu diperhatikan oleh orang tua.

- Konflik dengan lingkungan dimana mereka berada
Konflik bisa disebabkan oleh kegagalan menjalin komunikasi yang baik dengan lingkungan baik lingkungan pertemanan, lingkungan persaudaraan maupun lingkungan sosial yang lebih luas. Biasanya kesenjangan sosial memainkan peranan penting bila tidak dikomunikasikan dengan baik sehingga anak tidak paham, seperti anak-anak dilingkungan tersebut memiliki mainan yang bagus atau kemampuan bermain game yang baik sementara ia tidak punya dan tidak mampu bermain game karena tidak pernah diajari dan lain sebagainya.

Orang tua harus berperan aktif menjadi orang pertama dan yang terdepan dalam menjaga dan memberi perlindungan kepada anak-anak diantaranya meliputi hal-hal berikut ini:

1. Memberi pemahaman tentang kemampuan-kemampuan anak, kelebihan-kelebihan atau potensi yang ada pada diri anak, serta pemahaman tentang hubungan baik dalam pertemanan, kekerabatan dan lingkungan sosial lainnya seperti lingkungan sekolah dan lingkungan bermain.

2. Memberi respon positif ketika perasaan anak sedang tidak baik dengan cara menyimak dan memberi perhatian pada pengalaman yang mengganggu mental anak serta memberi arahan, menghibur hati anak dan memberi saran-saran dan nasehat lain yang bermanfaat bagi anak sesuai dengan tingkat pemahaman mereka.

3. Memberi motivasi agar anak mampu mengungkapkan perasaannya sehingga anak bisa bergaul dan dapat mempertahankan hak-haknya di dalam lingkungan dimana mereka berada.

Orang tua seyogyanya bisa memahami dan aktif memberi respon tentang apa yang dikatakan anak. Rangsanglah anak untuk mampu mengatakan situasi-situasi yang menyebabkan timbulnya perasaan-perasaan mereka. Ketika anak bisa mengungkapkan perasaan mereka, maka orang tua bisa membantu mncari solusi-solusi untuk mengatasi problem yang mereka hadapi, dengan demikian ketegangan-ketegangan pada anak bisa diredam dan tindakan-tindakan reaktif sebagai reaksi atas tekanan-tekanan dalam perasaan anak bisa dihindari.

Previous
Next Post »