Alasan Mengapa Anak Tak Lagi Bersemangat? Ini faktornya...

anak semangat

Mengapa Anak Tak Lagi Bersemangat. Orang tua seringkali dibuat bingung oleh tingkah laku anaknya yang sebelumnya berprestasi, semangat belajarnya tinggi, kini ia terlihat malas, tidak bersemangat belajar dan prestasi di sekolahnya pun merosot.

Faktor apa saja yang membuat anak menjadi malas dan kehilangan semangatnya?, inilah beberapa penyebabnya:

1. Faktor ekstrinsik atau penyebab yang berasal dari luar diri anak
Sebagian orang tua suka mendorong semangat anak dengan memberi motivasi berupa hadiah. Misalnya bila anaknya juara kelas ia akan diberi hadiah mainan kesukaannya, atau bila anak mau menyelesaikan PR ia akan diberi coklat. Pada awalnya anak begitu bersemangat belajar dan mengerjakan PR dan tugas-tugas sekolah lainnya, namun pada tahap selanjutnya anak memperlihatkan gejala kemalasan walaupun sudah diimingi hadiah. Mengapa ini terjadi?, karena anak pada awalnya memiliki ketertarikan yang besar untuk memperoleh hadiah yang ditawarkan orang tua sehingga ia begitu giat dan bersemangat belajar agar hadiah itu segera ia dapatkan.

Ketika hadiah sudah ia dapatkan ia merasa senang dan gembira sekali karena ia telah berhasil memperoleh apa yang diinginkannya. Namun bila ia sudah merasa bosan dengan hadiah yang sudah ia dapatkan misalnya mainan atau sepeda, semangat belajarnya mulai menurun. Lalu orang tua menawarkan lagi hadiah yang lebih besar dan anak pun semangat kembali.

Ketika hal seperti ini terus berulang dan akhirnya anak sudah tidak tertarik lagi dengan mainan keadaannya bisa berbalik, anak tidak semangat lagi bahkan kehilangan motivasi untuk belajar. Makin banyak mainannya makin ia bosan, dan ia mencari pelarian pada hal-hal baru yang ia senangi, misalnya bermain game komputer, game android, play station, dan berbagai hal baru yang menarik hatinya, kini ia tidak mau belajar atau mengerjakan PR, bila ditanya ia hanya menjawab “bosan”.

2. Faktor intrinsik atau penyebab yang berasal dari dalam diri anak

Faktor intrinsik atau motivasi yang mengalir secara alami dalam diri anak karena didorong oleh rasa ingin tahu yang dalam, lalu perasaan itu mendorong diri anak untuk mengeksplorasi seluruh minat, perhatian dan kemampuannya fokus pada apa yang ia kerjakan. Bila anak sedang semangat belajar dan terus berfokus pada apa yang ia kerjakan karena kemauannya sendiri ia bisa melakukan aktivitas tersebut selama berjam-jam tanpa merasa lelah karena ia melakukan semua itu dengan kegembiraan, kebahagiaan dan keasyikan.

Dorongan dari dalam diri anak karena ia melakukan sesuatu dengan bahagia dan mengasyikan merupakan sumber motivasi yang paling besar bagi anak untuk beraktivitas, misalnya anak sedang bersemangat menulis atau membaca ataupun menggambar, ia akan terus melakukannya tanpa harus di suruh-suruh.

Namun ada saat dimana semangat yang timbul dari dorongan intrinsik itu melemah, berbagai penelitian mengemukakan bahwa ketika anak sedang bersemangat melakukan aktivitas yang ia senangi, tiba-tiba orang lain masuk dalam wilayah keasyikan anak tersebut dan memberi motivasi lain dari luar (motivasi ekstrinsik) maka semangat anak pun cepat hilang dan ia merasa bosan.

Misalnya anak yang sedang asyik menggambar lalu diiming-iming hadiah permen atau coklat kalau ia mau menggambar dengan pensil warna, atau anak disuruh menggambar sesuatu yang sesuai dengan keinginan orang yang menyuruh, maka umumnya anak akan kehilangan semangatnya lalu cepat merasa bosan dan meninggalkan aktivitas tersebut. Hal ini terjadi karena apa yang ia lakukan yang didasarkan pada kegembiraan dan keasyikannya terusik dengan motivasi lain yang tidak ia inginkan.

Disinilah perlunya memahami dan menghargai keinginan anak untuk bereksplorasi tanpa harus dibatasi oleh keinginan orang tua misalnya, orang tua tinggal memfasilitasi, mengarahkan dan mengawasi aktivitas anak. Dengan demikian diharapkan anak akan tetap bersemangat, berjiwa kreatif dan memiliki hasrat berinovasi.

Cara Atasi Perasaan Rendah Diri Si Kecil

Pembentukan karakter anak sangat ditentukan oleh faktor bakat yang dimiliki anak dan kesesuaian pola asuh orang tua dan lingkungannya. Bunda tentu menginginkan karakter si Kecil berkembang secara positif. Perasaan rmalu dan rendah diri yang menghinggapi si Kecil yang dibiarkan berlarut-larut tentu saja akan membuat kejiwaan si kecil sangat tersiksa karena ia akan selalu merasa tidak berdaya dan merasa cemas ditengah lingkungan kelompoknya, disamping ia akan sulit beradaptasi, sulit bergaul dan mengembangkan diri.
Bunda dapat membantu dan membimbing si Kecil mengatasi perasaan malu dan rendah dirinya ketika hendak bertemu dan berinteraksi atau bergaul dengan orang-orang dengan cara melakukan hal-hal sebagai berikut:

1. Berupaya memahami kecemasan si Kecil
Bunda harus peka ketika si Kecil tidak memiliki keberanian atau si Kecil terlihat takut untuk memulai interaksi sosial dengan teman-teman sebayanya. Yang dapat Bunda lakukan adalah mencari tahu penyebab rasa takut berinteraksi pada si Kecil dengan komunikasi yang intens, apakah perasaan malu si Kecil bersumber dari perasaan bersalah karena telah melakukan perbuatan yang dianggapnya buruk seperti merusak mainan orang dan lainnya ataukah berasal dari rasa tidak percaya diri atau minder karena merasa tidak memiliki barang yang dapat dibanggakan atau merasa tidak memiliki kemampuan standar seperti temannya yang lain.

Kalau kecemasan si Kecil bersumber dari perasaan bersalahnya, Bunda bisa dengan bijak mengajarkan kepada si Kecil sikap kesatria dengan mengakui kesalahannya dan berani meminta maaf, hal ini akan membangun karakter percaya diri dan bertanggung jawab. Bunda tidak harus memvonis atau menghukum si Kecil, Bunda dapat mengajarkan kepada si Kecil cerita-cerita perumpamaan atau dongeng yang mengandung nilai ksatria dan sikap bertanggung jawab. Diharapkan si Kecil bisa mengambil pelajaran dan berani meminta maaf kepada teman-temannya, hal ini akan menumbuhkan optimisme dalam diri si Kecil dan mengundang simpati serta penerimaan dari kelompoknya.

Kalau kecemasan si Kecil bersumber dari perasaan rendah diri karena ia merasa tidak memiliki barang atau kemampuan yang setara dengan teman-temannya, Bunda dapat membantu meningkatkan rasa percaya diri si Kecil dengan memberitahukan potensi-potensi lain yang dimiliki si kecil yang sama baiknya atau lebih baik dari teman-temannya dengan bahasa yang ia pahami.

2. Membantu si Kecil memahami dirinya
Bunda dapat membantu si Kecil memahami dirinya dengan bahasa yang bisa ia pahami berupa kata-kata yang dapat memberi pengertian tentang kelebihan si Kecil seperti ia sudah mampu berbicara dengan lancar dan fasih, ia sudah dapat bercerita dengan baik, sudah bisa memakai dan menggunakan peralatannya sendiri, dan banyak kemampuan lainnya. Disamping itu Bunda dapat memberi motivasi rasa percaya diri si Kecil dengan pelukan, tatapan yang hangat, mendengarkannya penuh perhatian yang menggambarkan sikap penerimaan, pengakuan dan kasih sayang.

3. Membantu si Kecil agar bersikap terbuka dan belajar berinteraksi
Langkah awal yang dapat Bunda lakukan untuk membantu si Kecil bersikap terbuka adalah dengan pendekatan komunikasi yang baik, seperti Bunda meceritakan suatu kisah lalu si Kecil diajak berdiskusi tentang isi cerita tersebut. Ketika si Kecil sudah dapat berkomunikasi dan berdiskusi dengan baik ia sudah memiliki rasa percaya diri, lalu arahkanlah ia agar dapat melakukan pendekatan dan berkomunikasi dengan teman-temannya. Dukungan dan pendidikan yang Bunda berikan akan menjadi modal bagi si Kecil untuk siap bergaul dengan lingkungannya.
Previous
Next Post »