Mengoptimalkan Prestasi Anak Dengan Mengembangkan Kecerdasan Emosi Anak



Optimalkan prestasi anak dengan mengembangkan kecerdasan emosi anak. Orang tua tentu akan merasa bangga melihat anaknya kreatif dan berprestasi. Prestasi anak dapat dikembangkan dengan menumbuhkembangkan kecerdasan emosionalnya. Dengan

menumbuhkan kecerdasan emosional anak, ia akan memiliki karakter-karakter yang positif untuk kemajuan dan kesuksesannya kelak, diantaranya anak akan bisa mengontrol emosinya secara proporsional, anak mampu memotivasi dirinya bahkan mampu memotivasi orang lain, anak sudah dapat bekerja dengan tim secara efektif, ia mampu bergaul dan berinteraksi dengan teman-temannya, dan anak akan lebih produktif, energik dan dinamis. Semua kemampuan ini dapat menjadi bekal yang optimal untuk meraih prestasi.

Bagaimana cara mengembangkan kecerdasan emosional atau Emotional Intellegence (IE) anak?. Berikut ini beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan orang tua untuk menumbuhkembangkan kecerdasan emosional anak :

1. Mengembangkan kemampuan berbahasa
Kemampuan berbahasa pada anak akan berhubungan erat dengan kemampuannya berkomunikasi. Kemampuan berkomunikasi yang diraih dari kemampuan berbahasa ini akan sangat membantu anak dalam mempresentasikan keinginannya dan mengekspresikan berbagai perasaannya. Hal ini akan membuatnya luwes dalam bergaul dan dapat diterima dengan baik pada tiap lingkungan yang dihadapinya.

Dalam mengajari anak kemampuan berbahasa tentunya orang tualah yang harus terlebih dahulu menjadi teladan dalam mengenalkan cara berbahasa yang baik dan santun kepada anak, karena anak bersifat reseptif atau menerima, mencerna dan mencontoh pola yang dilakukan orang tuanya. Dalam hal ini orang tua harus berhati-hati dalam berbahasa di depan anak, jangan sampai marah-marah atau memarahi anak dengan kata-kata yang kasar atau kurang santun karena secara tidak disadari ia telah mengajarkan anaknya cara berbahasa, dan hal ini akan diserap oleh anak dan akhirnya dicontoh oleh anak dan akan ia bawa ke berbagai lingkungan pergaulannya sebagai karakternya dalam berbahasa.

2. Mengungkapkan perasaan
Setelah anak memiliki kemampuan berbahasa dengan baik dan lancar, orang tua bisa mengajarinya cara mengungkapkan perasaan, hal ini berhubungan dengan bagaimana ia bisa mengungkapkan atau mengekspresikan perasaannya ataupun ia bisa memahami perasaan lawan bicaranya. Salah satu manfaat bagi anak yang mampu mengungkapkan perasaannya secara terbuka dalam berinteraksi dengan orang lain ialah ia bisa menciptakan suasana penuh kehangatan dalam berinteraksi dan tentunya akan menambah kedekatan dan ia akan diterima dengan baik dalam lingkungan pergaulannya.

3. Peka terhadap perasaan dan kepentingan orang lain
Asahlah kemampuan anak untuk peka terhadap perasaan dan kepentingan orang lain dengan cara menyentuh dan menghargai rasa “aku”-nya agar ia pun memahami dan melakukan hal yang sama kepada orang lain, misalnya ketika anak sedang gembira karena mencapai prestasi tertentu seperti juara kelas, menang dalam perlombaan, mencapai kemampuan tertentu yang baru berhasil ia kuasai misalnya bisa memakai baju sendiri, bisa mengerjakan pekerjaan rumahnya sendiri dan lain sebagainya sanjunglah ia dan beri pujian penghargaan atas keberhasilannya. Hal ini akan membuatnya bahagia dan merasa dihargai, dan ia akan melakukan hal seperti ini kepada teman-temannya yang akan membuat temannya senang kepadanya dan menghargainya.

4. Ajarkan kesantunan dan tata krama
Mengajari anak kesopanan dan tatakrama akan menjadi cerminan perilaku sosialnya ketika ia berinteraksi dengan orang lain. Misalnya mengajari anak untuk menyapa dengan senyum dan penuh semangat dan kegembiraan, mengajarinya bersalaman, meminta ijin ketika melintas di depan orang tua, dan berbagai bentuk kesopanan lainnya akan menjadi kebiasaan dan karakternya yang akan ia bawa dan praktekkan di setiap lingkungan yang ia hadapi. Dengan demikian anak akan menjadi pribadi yang disenangi dalam setiap lingkungan pergaulannya.
Previous
Next Post »